Bergeraklah seindah Mentari pagi menyinari bumi, ia bergerak memberikan kehangatan namun tak membakar. Bergeraklah atas dasar apa yang kalian pelajari dan pahami, bukan sebatas apa yang kalian ketahui. (Semangat Peradaban, DPM FE 2016)
Tampilkan postingan dengan label Education. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Education. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 November 2014

Kemunafikan Itu, Ada Dibalik Kebijakan

     
     Tak asing ketika kita banyak mendengarkan sejumput permasalahan yang melanda Negeri ini. semua sektor tak luput dari serakan masalah yang kian hari, makin sulit saja untuk menyapunya. ini bukan tentang terlaksana tidaknya suatu program yang di jalankan pemerintah. Jauh darinya, ini merupakan sebuah hal tentang baik tidaknya program yang dilaksanakan pemerintah. Pemerintah harus berkaca, bahwa dirinya di bentuk bukan untuk melayani dirinya sendiri. akan tetapi rakyatlah yang seharusnya dilayani. paradigma ini seharusnya menjadi pegangan yang kuat, dasar, serta pondasi pemerintah dalam melaksanakan setiap tugasnya.

  Tentang baik buruknya sifat pelayanan yang diberikan pemerintah, senantiasa akan tercermin dari setiap program kerja yang dilaksanakan pemerintah. Program kerja tersebut tidak akan pernah lepas dari 2 pilihan. Pertama, Pemerintah melaksanakan program kerja yang sifatnya ekslusif, yaitu hanya berpihak untuk kebaikan pemerintah. Ataukah yang kedua, pemerintah akan memilih dan  melaksanakan program kerja yang sifatnya Inklusif, yaitu yang saling menjunjung kebikan di antara dua pihak, rakyat dan pemerintah sesuai dengan asas keadilan bernegara. tentunya hal ini yang akan menjadi bahan penilaian bagi rakyat sendiri nantinya, tentang baik buruknya program pemerintahan dilaksanakan pemimpin -terlepas dari adanya rekayasa pencitraan di dalamnya-.


     Hari ini ketika kita menyaksikan sejumlah peristiwa tentang penggusuran, penertiban, dan tindakan represif lainnya yang dilakukan pemerintah. Itu semua jua tak lepas dari 2 pilihan yang telah diambl pemerintah. sejatinya pemerintah dalam hal ini telah mengambil sebuah keputusan dalam menjalankan progja yang sifatnya ekslusif - Sejatinya bangsa ini hadir bukan hanya sekedar menggulung kolonialisme, tapi menggelar keadilan bagi seluruh rakyatnya-. jika sifat inklusivisme masih di teruskan dalam budaya pemerintah, maka sejatinya budaya berfikir kolonial masih tumbuh subur di Negeri ini. tentu kita semua menginginkan suatu kondisi yang Ideal bagi tatanan kehidupan di Negeri ini -win win solution-. tak jadi persoalan mengenai pergusuran, penertiban, maupun tindakan represif lainnya. namun yang menjadi persoalan yang berat adalah upaya pemerinta di balik semua itu yang kurang cakap. menggusur tanpa memberi kompensasi yang layak, menertibkan -penangkapan- tanpa upaya serius mengganti mata pencaharian mereka yang di ingginkan pemerintah. sehingga dalam hal ini, pemerintah terlalu memaksakan yang berujung pada sebatas upaya "penyembuanyian" kebusukan. rakyat di jelata di sembunyikan -agar nampak pemerintah telah menanggulangi permasalahan yang ada- padahal sejatinya upaya yang harus dilakukan pemerintah -sesuai UU- pemerintah bukan hanya sebatas memelihara rakyat jelata, fakir miskin - konsep memelihara (suka di pelihara, tidak suka di buang)- akan tetapi sudah berfikir jauh ke depan tentang sebua konsep untuk menyejahterkan rakyat jelata, fakir miskin, anak terlantar dan manusia korban kebijakan pemerintah lainnya.

Ibnu Ramadhany

Minggu, 02 November 2014

Semangat Pemuda Indonesia


Kurang lebih 86 tahun yang lalu, kita melihat sebuah momentum yang sangat luar biasa. Dimana pemuda kita – Pemuda Nusantara-, dari Sabang sampai merauke, dari miangas samapi pulau rote mereka berikrar untuk bersatu, menyatukan gagasan, menyatukan pemikiran, dan yang tak kalah penting ikrar mereka di tandai dengan adanya persatuan gerakan demi melihat bangsa yang mereka diami, bangsa Indonesia. Lepas dari praktek colonial yang tak sejalan lagi dengan Hak Asasi Manusia. Ketika kita melihat lebih jauh lagi, bahwasanya banyak persayaratan bagi mereka untuk bisa hidup tentram, nyaman, dan  damai ketika mau tunduk di bawah bendera colonial. Tapi yang kita lihat pada waktu itu, mereka memilih jalan perjuangan yang di dalamnya banyak sekali hambatan, tantangan, bahkan tak jarangm, nyawapun menjadi taruhan mereka dalam menegakan risalah perjuangannya.
Sekiranya kita bandingkan antara pemuda yang hidup di jaman kemerdekaan ini, dengan pemuda yang hidup dalam era colonial. Maka sejatinya perbandingan itu bagaikan bumi dan langit, jauh dan tak bisa disamakan. Kita hanya perlu mencontoh sebuah semangat yang menyatu dari pemuda terdahulu. Mereka rela melepas kenyamanan demi terbentuknya cita luhur bersama. Pengorbanan mereka juga tak hanya sampai di materi, akan tetapi sudah pada nyawa yang rela mereka berikan kepada bangsa. bukan mati konyol, yang ada adalah mati mulia dalam membangun bangsa. akan berbeda dengan pemuda yang hidup di era reformasi setidaknya mereka akan mati konyol di dalam zona kenyamanan, padahal banyak tugas dan tanggung jawab yang menanti dari bangsa ini.
Kita jadikan hari ini, bukan sekedar pengulangan hari yang kita laksanakan secara ceremonial saja, akan tetapi Kita harus jadikan momentum ini sebagai momentum kebangkitan atas semangat pemuda Indonesia. Dari yang bermusik Rock sampai yang bermusik jazz, dari yang berlauk daging sampai tempe, dari yang bergaya dampai dengan yang konservasi. Kita adalah sama-sama pemuda Indonesia yang akan menjujung tinggi dan membangun kearah perbaikan dalam setiap  perbedaan yang kitamiliki. Go Pemuda Indonesia. . . . 

Video Youtube : Klik. . :-)

Senin, 07 Juli 2014

I'm Is Civilization

Kejujuran Adalah Harapan Pasti Tegaknya AKU

AKU
Aku adalah sebuah keadaan dimana semua orang rindu akan kedatanganku, keadaan dimana masyarakat dunia bahu membahu untuk hadirnya diriku. Aku adalah momentum ideal dimana tidak ada lagi darimu yang dicabut hak atas keadilan, kehormatan, kemanusiaan, dan hak atasmu tersenyum bebas dari beban hidup. Bila kau Tanya siapakah aku? Maka dengan tegas aku kan menjawab,  “Akulah Peradaban”, Peradaban yang banyak kau tanyakan itu, peradaban yang banyak kau gencar-gencarkan dalam setiap tulisanmu, kata-katamu, maupun setiap perjuangan yang kau lakukan. “I am is a Civilization”.

Aku dilahirkan dari air mata yang saling bercucuranan, pengorbanan yang tak akan pernah ada habisnya, dan aku di lahirkan melalui jalan perjuangan nan sepi dan amat panjang, hingga tidak ada lagi yang kan mengira bahwa aku akan lahir. Namun satu hal yang harus kalian ketahui, aku tegak berdiri diatas kelahiranku atas dasar Kejujuran yang kau miliki.

Kejujuran merupakan vitamin terbaik untuk ku, seperti halnya air menjaga tumbuhan dari layu, mentari menjaga bumi dari rasa dingin yang menyengat, dan seorang ibu yang selalu haus memberikan perlindungan untuk sang buah hatinnya,. Terkadang kejujuran ini, sering kali kau abaikan dalam setiap lisan yang terucap darimu, maupun tingkah yang lakukan. Hingga terkadang aku mulai putus asa untuk menampakan diriku dihadapan mu (kalian), terkadang pula rasa mengurunkan niat lebih besar daripada hal yang seharusnya (menampakan diri). Ah, yasudahlah. Biarkan takdir Tuhan yang nanti kan menentukan.


Aku dan Kau Bicara Kejujuran di Negeri ini (Indonesia)

Sejak kecil, mungkin kau sudah di ajarkan beberapa prilaku yang harusnya kau jauhi, prilaku yang mencerminkan ketidakjujuran (un honesty), atau bahkan mungkin juga kau telah menghafal dengan perilaku itu. Berbohong, mencontek, korupsi. Ya, itu bagian dari ketidakjujuran. Sejatinya, kejujuran yang ada di negeri ini tidak lepas dari 2 hal ; Kejujuran Nasional dan Kejujuran Individual.

Kejujuran Nasional. Kejujuran Nasional adalah kejujuran kolektif yang dibangun atas dasar rangkaian kejujuran individual. Kejujuran Nasional merupakan variable terikat yang di pengaruhi oleh kejujuran individual. Ketika kita ingin membentuk kejujuran Nasional, maka hal yang paling berpengaruh untuk kita lakukan adalah membentuk kejujuran individual terlebih dahulu. Lalu apa bedanya dari kedua hal ini?. Coba kita tengok tayangan di media, Berapa banyak siaran yang menayangkan kasus korupsi yang dilakukan para pejabat negeri, kasus suap yang dilakukannya, sampai dengan mal praktek politisasi di segala bidang, sudah tentu terlalu banyak tayangan yang kita saksikan. Kemarin  kita menyaksikan kasus korupsi yang dilakukan pejabat kita, berikut hari kita pula menyaksikan kasus sama, sampai dengan hari ini kasus tersebut masih terngiang di telinga kita. Rangkaian kasus pelanggaran (un Honesty) yang dilakukan individu (kita menyebutnya Oknum) secara kolektif akan menyebabkan keguncangan di skala nasional, maka keadaan ini lah yang dinamakan (KetidakJujuran Nasional). Berapa banyak dampak yang mampu dihasilkan dari keadaan ini?, banyak rakyat terlantar, kemiskinan merajalela, pembangunan infrastruktur terhambat, ya itu semua hanya sebagian dari dampaknya. Yang paling berkesan adalah ketika level dari sebuah kejujuran (nasional) mampu memberi label tersendiri bagi negeri ini.
Negeri yang korup (its may be).

Sekarang kau harus bicara Taubatan Nasional
Begitu luar biasanya engkau (kejujuran), hingga membuat dampak yang luar biasa pula bagi kelangsungan negeri ini. namun sesungguhnya harapan aku (peradaban) untuk muncul kembali masih terbuka lebar, jangan pernah pesimis dengan apa yang menjadi fakta di negeri ini, karena sesungguhnya masih banyak pula keberhasilan yang mampu di raih bangsa ini. lihatlah pasca kemerdekaan bangsa ini, hamper 95% masyarakatnya buta huruf. Suatu keajaiban tersendiri, dalam kurun waktu yang singkat, kini dari 95% itu mampu di turunkan menjadi 8%. Negara mana lagi yang mampu melakukan hal semacam ini dalam kurun waktu yang singkat? Its nothing.

Ketahuilah kawan Sebuah hal yang kecil, namun berdampak besar adalah ketika engkau mampu menjunjung tinggi nilai kejujuran dan mentransformasikannya  kedalam masyarakat, dari situ pula aku (peradaban) akan makin dekat denganmu. Hindarilah perilaku yang mencerminkan ketidakjujuran hingga masyarakat mengikutimu, sekecil apapun bentuknya, hingga kau terbiasa dan membiasakan yang lain mengikuti bentuk prilakumu. Mulailah dari sekarang juga (taubat). Sungguh suatu kejahatan ada bukan karena banyaknya orang jahat yang ada di dunia ini, tapi karena banyaknya orang baik yang diam dan mendiamkan. Salam Peradaban. . .

Sabtu, 28 Juni 2014

Youth is civilization Shoulders

A civilization, it is perfect to be achieved when in motion by the youth. youth here not in the sense of the age limit (age 18-30), but youth is having a passion for building, have a strong character of the truth, and have a high innovation to make changes.

No change without youth.
we can see some changes in each country. example is the United States. U.S. revolution driven by youth. The Country foundation was founded by a young like Benjamin Franklin, George Washington, John Adams, Thomas Jefferson, John Jay, James Madison, and Alexander Hamilton until obama who have high skill in government. We can see also in Indonesia, there Ir. Soekarno, moh. Hatta, syahrir, etc. who is founding father of Indonesia, they are young. Which state is not established enumerated by youth?
Until now we are agree, that the youth are agents of change.
So, what youth can do to change?

for promoting diversity in unity, we can make changes through in 3 sectors.

1.     Education
Education is a primary basic to build the character of a person. all the good things we can teach to the next generation including teaching diversity in unity, as an obvious example. since childhood I was taught by my teacher about the meaning of togetherness without discrimination. so far I was aware of and understand the meaning of togetherness and able to apply them in everyday of my life, especially when gathered with people outside, I can interact well with them.
in terms of education, I would like to offer ideas, to form a youth group that inspires kids country with no strings attached. we create a training center for students, and shaping the world youth forum.


      2.  Media
a good organization, if in it there are 5 components. Good human, good system, finance, media and leadership who make changes in organization.
The media is having a lot of influence on the formation of public thinking. Good news media, can form a good thinking and Bad news media, can form a bad idea. but lately, a lot of media that provide mostly bad news. their view, the bad news is news of interest (bad news is Good news). Like as dropping news, news slander, media war and the news that there is no truth.
in terms of the media, I would like to offer ideas

-          form a new creative and innovative Media
form of creative media is meant to follow up my ideas about education. we can expose both activities, which we do through our media more creatively. so there will be a new public discourse on the importance of togetherness. This medium is also intended to keep the climate that we have built together, the way it displays news wich continuously about togetherness of  diversity in Unity.

-          forming infiltration movement to other media
This move is intended to curb the evil media that poisons public mindsets. we are planning a career in it to occupy strategic positions, so when it is in a strategic position, we can replace bad news into good news. however, this strategy requires high professional and in a short time is not.

Jumat, 27 Juni 2014

The future of the nation, is in our hands


Masa lalu, masa kini dan masa depan adalah serangkaian waktu yang saling bersinergis dalam membentuk sebuah peradaban. Semua itu berputar seperti hal nya perjalanan hidup manusia, dari mulai bayi, anak-anak, remaja sampai dengan orang tua yang nantinya mau tidak  mau harus terkubur dalam himpitan tanah yang begitu gelap. Masa lalu adalah masa yang hanya dapat dikenang dan dijadikan sebuah pelajaran berharaga oleh setiap insan yang sudah terlepas dari ego masa kini. Seperti yang bung karno katakan pada masanya.

“Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca benggala dari masa yang akan datang” (dalam pidatonya di HUT Proklamasi 1966). Dan masa kini adalah masa yang harus dijalani, masa dimana semua impian kedepan digagas didalamnya. Sedangkan masa depan adalah suatu prediksi ketidak pastian atas rumusan yang telah dibuat pada masa sekarang dengan bercermin pada cerita masa lalu (Masa lalu). Masa depan adalah suatu hal yang harus benar-benar kita konsep menjadi sebuah hal yang nantinya akan mampu membawa kita menjadi bagian dari sejarah umat. Bagian dari perdaban-peradaban cemerlang hasil buah karya manusia, bukan hanya menjadi bangsa yang hidup di pinggiran sejarah.

Indonesia  adalah salah satu bangsa yang berpotensi menjadi salah satu negara yang terombang-ambingkan dalam lautan sejarah jikalau semangat pemuda revolusioner tidak ada lagi di negeri ini. Semangat minoritas yang tidak bisa mengalahkan kaum hedonisme mayoritas.

“Perjuanganku lebih mudah karena hanya melawan penjajah, tapi perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri ” (Pidato bung karno saat HUT Proklamasi 1963)

Pada era penjajahan , tantangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia hanyalah satu semata. Yaitu bagaimana ia bisa melepaskan diri dari belenggu penyiksaan, belenggu perenggut kebebasan asasi manusia, yaitu penjajahan. Bangga Indonesia hanya dihadapkan pada  masalah bagaimana cara untuk menjadi sebuah bangsa yang merdeka. Menjadi sebuah Negara yang merdeka yang tentunya adalah dengan cara mengusir para penjajah dengan jalan perang. Namun lain halnya dengan perjuangan pada era saat ini, khususnya pasca reformasi dimana banyak sekali problematika yang melanda bangsa ini, mulai dari sistem yang ada didalamnya sampai dengan tekanan-tekanan yang datang dari luar. Semua itu bercampur, dan menjadi suatu hal yang komperehensif yang menjadikan bangsa Indonesia menjadi dipandang sebelah mata oleh bangsa-bangsa yang lainnya. Ini jelas tantangan yang lebih sulit dibandingkan dengan mengusir para penjajah. Seandainya tumbuhan, tambang-tambang emas, tambang batu bara, kandungan minyak bumi Indonesia, mereka semuanya dapat berbica, maka setidaknya satu hal yang mereka katakan adalah “Kami ingin para pendiri bangsa ini dibangkitkan untuk memimpin kami kembali”. Penataan masa depan harus benar-benar ditanamkan dalam setiap benak individu masyarakat Indonesia, Penataan yang mengarah pada seluruh sendi kehidupan, bukan penataan yang mencoba mengarahkan semuanya menjadi satu hal yang monoton. Mulai dari sumber daya manusia, Alam, hingga sumber daya buatan manusia. Itulah yang yang harusnya bisa difikirkan oleh mereka yang duduk diatas sana, harus memikirkan pula untuk mengubah mindset dari politikus menjadi seorang nagarawan sejati.