Bergeraklah seindah Mentari pagi menyinari bumi, ia bergerak memberikan kehangatan namun tak membakar. Bergeraklah atas dasar apa yang kalian pelajari dan pahami, bukan sebatas apa yang kalian ketahui. (Semangat Peradaban, DPM FE 2016)
Tampilkan postingan dengan label Kepemudaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kepemudaan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 November 2014

Semangat Pemuda Indonesia


Kurang lebih 86 tahun yang lalu, kita melihat sebuah momentum yang sangat luar biasa. Dimana pemuda kita – Pemuda Nusantara-, dari Sabang sampai merauke, dari miangas samapi pulau rote mereka berikrar untuk bersatu, menyatukan gagasan, menyatukan pemikiran, dan yang tak kalah penting ikrar mereka di tandai dengan adanya persatuan gerakan demi melihat bangsa yang mereka diami, bangsa Indonesia. Lepas dari praktek colonial yang tak sejalan lagi dengan Hak Asasi Manusia. Ketika kita melihat lebih jauh lagi, bahwasanya banyak persayaratan bagi mereka untuk bisa hidup tentram, nyaman, dan  damai ketika mau tunduk di bawah bendera colonial. Tapi yang kita lihat pada waktu itu, mereka memilih jalan perjuangan yang di dalamnya banyak sekali hambatan, tantangan, bahkan tak jarangm, nyawapun menjadi taruhan mereka dalam menegakan risalah perjuangannya.
Sekiranya kita bandingkan antara pemuda yang hidup di jaman kemerdekaan ini, dengan pemuda yang hidup dalam era colonial. Maka sejatinya perbandingan itu bagaikan bumi dan langit, jauh dan tak bisa disamakan. Kita hanya perlu mencontoh sebuah semangat yang menyatu dari pemuda terdahulu. Mereka rela melepas kenyamanan demi terbentuknya cita luhur bersama. Pengorbanan mereka juga tak hanya sampai di materi, akan tetapi sudah pada nyawa yang rela mereka berikan kepada bangsa. bukan mati konyol, yang ada adalah mati mulia dalam membangun bangsa. akan berbeda dengan pemuda yang hidup di era reformasi setidaknya mereka akan mati konyol di dalam zona kenyamanan, padahal banyak tugas dan tanggung jawab yang menanti dari bangsa ini.
Kita jadikan hari ini, bukan sekedar pengulangan hari yang kita laksanakan secara ceremonial saja, akan tetapi Kita harus jadikan momentum ini sebagai momentum kebangkitan atas semangat pemuda Indonesia. Dari yang bermusik Rock sampai yang bermusik jazz, dari yang berlauk daging sampai tempe, dari yang bergaya dampai dengan yang konservasi. Kita adalah sama-sama pemuda Indonesia yang akan menjujung tinggi dan membangun kearah perbaikan dalam setiap  perbedaan yang kitamiliki. Go Pemuda Indonesia. . . . 

Video Youtube : Klik. . :-)

Sabtu, 19 Juli 2014

Catatan Kecil Sang Pemimpi

Entah mengapa, malam ini begitu sunyi rasanya. Tak seperti biasa, malam lalu banyak kudapati alunan suara yang biasanya menghiasi malam, Tapi tidak kudapati malam ini. Hanya bintang  dan kesunyian yang setia menemani malamku malam ini. Ah yasudah biarlah.

            Dalam hening, begitu kuat rasa ini untuk memanjatkan do'a kepada Tuhan yang Maha Perkasa. 


"Ya Tuhan, begitu cepat pagiku telah ku lalui. Dari itu, betapa banyak kesalahan yang telah hamba lakukan. Betapa banyak hamba lalai dalam kewajiban, sedangkan rakus dalam Hak.Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. Ampunilah dalam sepertiga malam ini Dosa-dosa hamba Ya Rabb"

        Kuat rasanya keinginanku untuk menulis sepatah kata di malam yang sunyi ini. Terinspirasi dari seorang anak bernama Samsul. kegigihan, semangat yang terus membara, pantang menyerah tak kenal putus asa. itulah yang senantiasa ada dalam dirinya, walau tangis dalam hati tak luput dari bocah sekecil itu. Keinginan yang kuat walau dalam keterbatasan, Kerja keras yang mampu mengalahkan sakit raga, cita-cita yang melebihi angan-angan seorang pemimpi. itulah bocah kecil bernama Samsul. bocah yang berasal dari kaki Gunung Slamet, Bumi Jawa, Tegal.

      Hari ini kutuliskan dalam tulisan kecilku, menyemangati diri ini yang begitu lemah, rapuh, tak berdaya, jika di bandingkan dengan sahabat kita yang satu itu. Samsul hanya salah satu sahabat dari ribuan sahabat kita yang masih susah payah dalam mencari sesuap nasi. korban para pecundang negeri yang hanya bisa menghabiskan uang rakyat. Sungguh Tuhan Maha Adil, biarkan DIA yang akan menggantkan setiap tetes air mata Samsul dan sahabat kita diluar sana oleh apa yang telah di lakukan Cukong-cukong di negeri ini.

       Ingin sekali rasanya melihat, Suatu keadaan. dimana tak adalagi air mata yang dapat digadaikan dibumi ini. Suatu keadaan dimana hukum menjadi sahabat dari jutaan nyawa, tak ada pengecualian sedikitpun di dalamnya. semua mendapatkan hak tanpa ada yang memakan hak dari sebagian yang lain. semua memiliki kesadaran bahwa antara yang satu dan yang lain ibarat satu jiwa yang kuat, saling merasakan sakit ketika ada satu bagian yang lain sakit. Satu Jiwa. Itulah mimpiku.

      Atas nama kebenaran, berapa banyak orang, kelompok, etnis, yang mendurhakai dirinya hanya untuk memperoleh hak dari orang lain. Berapa banyak sahabat kita yang terdzolimi. Mereka mengatasnamakan kepedulian hanya untuk meninggikan bendera kemunafikan. tidak banyak bendera yang berdiri tegak dalam bingkai keikhlasan. Sahabat ketahuilah ciri diatas nampak ketika kita melakukan sesuatu berorientasi hanya kepada manusia (mendapatkan Pujian). Melayang ketika dipuji, sedangkan hancur ketika di maki. Hari ini dan esok kita mengharapkan sahabat kecil yang mampu memberikan pengorbanannya untuk orang lain. sahabat yang mampu memberikan bantuan untuk mencapai cita-cita dari sahabat yang lainnya. ketika banyak pemilik jiwa seperti itu, maka tak akan adalagi sahabat kita yang rela menjual keringat demi sesuap nasi. menggadaikan bahagia dalam menjalani hidupnya.

buatlah hadirnya kita dapat membawa perubahan,
Mencapai sebuah Peradaban besar Di Abad ini.
dan Selamat menebar kebermanfaatan.

Salam Peradaban.

Selasa, 15 Juli 2014

Renungan Untuk Negeriku

Sungguh, Negeri ini adalah negeri yang amat indah. negeri dimana bentang alam seakan menjadi hiasan bagi mata memandang. negeri dimana banyak orang mengatakan "Inilah Surga Dunia". Begitu sulit kita menemukan negeri yang memiliki keistimewaan surga selain Indonesia. banyak orang berkata, Negeri ini adalah Negeri surga, “ikan dan udang datang menghampiri” begitulah pepatah orang mengatakan. Ya, ini indonesia, negerinya para bidadari. semua orang tahu, itulah negeri yang benamakan Indonesia. Ya, Indonesia. bersyukur kepada yang Maha Kuasa atas pemberian yang begitu amat besar kepada kita.
Sedikit langkah kita akan melihat dan memahami negeri kita ini. Alangkah gemetarnya jiwa, bila mereka tau yang sesungguhnya, tahu akan kondisi bangsa ini di dalam realita yang ada. kita tidak lagi sedan melihat film yang hanya mempertontonkan keindahan dibalik segala bentuk kekurangan, bukan pula karangan puisi yang membacakan eksotisme kandungan didalamnnya. Ini merupakan suatu realitas yang tidak bisa ditutupi lagi, karena tidak ada suatu keburukan yang selama akan mampu untuk di tutup-tutupi. bicara Indonesia, maka alangkah lebih baik ketika kita membicarakan realitas yang ada. Keburukan? Ya, setiap negeri pasti memiliki keburukan, tapi bagiku tidak dengan Indonesia. bagiku negeri yang baik, adalah negeri yang tingkat keburukan berjalan tidak secara "continue", dan tingkat perbandingannya lebih kecil dari kelebihan yang ada. Ketika kita membicarakan kelebihan dalam setiap sektor yang ada di Indonesia, maka sudah jelas itu tentu ada. namun keburukan menjadi nomer satu dari setiap sektor yang ada. ini lah yang menjadi unik dari negeri kita. dimana-mana ketika membicarakan sektor pasti banyak keburukan. Mulai dari pendidikan sampai dengan sosial masyarakat. Ya, lebih banyak keburukannya.

Media yang ada di negeri kita, hampir setiap hari tidak pernah luput untuk membicarakan keburukan yang ada. Hampir setiap Hari. sedikit pula yang menayangkan tentang kebaikan dan keberhasilan yang ada. ya itu benar. dan seharusnya segala catatan tentang keburukan yang ada bukan malah menjadikan diri kita menjadi generasi yang kritis pesimis. Generasi yang mengkritik tanpa memberikan solusi. sudah terlalu banyak keburukan yang ada, ketika kita disibukan hanya dengan pembahasan mengenai keburukan, tanpa mengenal solusi, bagaimana kita akan maju. "Lebih Baik Menyalakan Lilin, daripada mengutuk Kegelapan".

banyak mereka yang mengaku reformis, tapi ujung-ujungnya Adalah jabatan, banyak yang mengaku atas nama keadilan tapi ujung-ujungnya adalah kesenangan, banyak pula yang mengaku pemuda namun hanya memiliki pemikiran yang kritis pesimis. mereka mengkritik, namun tak memberikan solusi. mereka mengatasnamakan peradaban namun tak bertindak satu langkahpun. ini yang menjadi catatan penting.
Ada yang tak berfikir dan tak bertindak. . .

Ada yang berfikir tapi Tak Bertindak. . .

Ada yang bertindak tapi tak berfikir. . .

namun Sedikit yang bertindak atas dasar pemikiran. . .

Masalah terbesar untuk bangsa ini adalah sumber daya manusia. Akan banyak solusi tentunya keika kita berusaha keras untuk keluar dari permasalahan yang ada. merenungi segala bentuk kekurangan dan menggantinya menjadi suatu yang lebih baik. tidak ada kata terlambat di dunia ini, yang ada hanyalah tidak ada aksi untuk masalah yang ada.

Salam Perjuangan 

Jumat, 27 Juni 2014

The future of the nation, is in our hands


Masa lalu, masa kini dan masa depan adalah serangkaian waktu yang saling bersinergis dalam membentuk sebuah peradaban. Semua itu berputar seperti hal nya perjalanan hidup manusia, dari mulai bayi, anak-anak, remaja sampai dengan orang tua yang nantinya mau tidak  mau harus terkubur dalam himpitan tanah yang begitu gelap. Masa lalu adalah masa yang hanya dapat dikenang dan dijadikan sebuah pelajaran berharaga oleh setiap insan yang sudah terlepas dari ego masa kini. Seperti yang bung karno katakan pada masanya.

“Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca benggala dari masa yang akan datang” (dalam pidatonya di HUT Proklamasi 1966). Dan masa kini adalah masa yang harus dijalani, masa dimana semua impian kedepan digagas didalamnya. Sedangkan masa depan adalah suatu prediksi ketidak pastian atas rumusan yang telah dibuat pada masa sekarang dengan bercermin pada cerita masa lalu (Masa lalu). Masa depan adalah suatu hal yang harus benar-benar kita konsep menjadi sebuah hal yang nantinya akan mampu membawa kita menjadi bagian dari sejarah umat. Bagian dari perdaban-peradaban cemerlang hasil buah karya manusia, bukan hanya menjadi bangsa yang hidup di pinggiran sejarah.

Indonesia  adalah salah satu bangsa yang berpotensi menjadi salah satu negara yang terombang-ambingkan dalam lautan sejarah jikalau semangat pemuda revolusioner tidak ada lagi di negeri ini. Semangat minoritas yang tidak bisa mengalahkan kaum hedonisme mayoritas.

“Perjuanganku lebih mudah karena hanya melawan penjajah, tapi perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri ” (Pidato bung karno saat HUT Proklamasi 1963)

Pada era penjajahan , tantangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia hanyalah satu semata. Yaitu bagaimana ia bisa melepaskan diri dari belenggu penyiksaan, belenggu perenggut kebebasan asasi manusia, yaitu penjajahan. Bangga Indonesia hanya dihadapkan pada  masalah bagaimana cara untuk menjadi sebuah bangsa yang merdeka. Menjadi sebuah Negara yang merdeka yang tentunya adalah dengan cara mengusir para penjajah dengan jalan perang. Namun lain halnya dengan perjuangan pada era saat ini, khususnya pasca reformasi dimana banyak sekali problematika yang melanda bangsa ini, mulai dari sistem yang ada didalamnya sampai dengan tekanan-tekanan yang datang dari luar. Semua itu bercampur, dan menjadi suatu hal yang komperehensif yang menjadikan bangsa Indonesia menjadi dipandang sebelah mata oleh bangsa-bangsa yang lainnya. Ini jelas tantangan yang lebih sulit dibandingkan dengan mengusir para penjajah. Seandainya tumbuhan, tambang-tambang emas, tambang batu bara, kandungan minyak bumi Indonesia, mereka semuanya dapat berbica, maka setidaknya satu hal yang mereka katakan adalah “Kami ingin para pendiri bangsa ini dibangkitkan untuk memimpin kami kembali”. Penataan masa depan harus benar-benar ditanamkan dalam setiap benak individu masyarakat Indonesia, Penataan yang mengarah pada seluruh sendi kehidupan, bukan penataan yang mencoba mengarahkan semuanya menjadi satu hal yang monoton. Mulai dari sumber daya manusia, Alam, hingga sumber daya buatan manusia. Itulah yang yang harusnya bisa difikirkan oleh mereka yang duduk diatas sana, harus memikirkan pula untuk mengubah mindset dari politikus menjadi seorang nagarawan sejati.

Pemuda dan Peradaban




“Setiap hari saya menghadapi  masalah yang berat, namun setiap kali yang ku panggil adalah Pemuda” (Umar Bin Al Khotob)

Begitulah kata “Umar Bin Al Khotob” pada masanya ketika memimpin sebuah peradaban gemilang dalam dunia ke Islaman. Dalam hal ini pemuda dikatakan sebagai pilar dari adanya kebangkitan peradaban besar umat manusia. Peradaban yang mampu menggoreskan tinta kejayaan dalam lembaran sejarah manusia. Peradaban yang mampu menjunjung tinggi martabat manusia beserta kodrat alamiahnya. Bukan hanya sekedar peradaban yang menjurus pada degredasi moralitas sebuah bangsa. Maka disinilah letak peran strategis seorang pemuda dalam membawa risalah-risalah perubahan progresifitas.

Beban perubahan senantiasa diamanahkan  oleh para pemuda dalam pergerakannnya, untuk terciptanya sebuah peradaban yang gemilang. Dari hal ini dapat dikatakan bahwasanya perubahan itu akan tercipta manakala ada sebuah integritas yang kuat antara pemuda dan risalah yang diamahkannya. Sejauh mana pergerakan tersebut dapat direalisasikan dengan baik dalam berbagai segi kehidupan, maka sejauh itu pula perubahan yang akan di dapatinya (tanpa terdistorsi oleh degredasi moral).

Sekiranya kita membahas sebuah peradaban maka hal itu tak akan pernah lepas dari sebuah perubahan-perubahan,. Ketika kita mengkaji sebuah perubahan maka hal itu tidak lepas dari progresifitas pergerakan, ketika kita membicarakan progresifitas pegerakan maka hal itu tak akan pernah lepas dari peran serta pemuda selaku tonggak tegak berdirinya sebuah peradaban, dan ketika kita menepis arti kata pemuda maka mahasiswa lah penyumbang utama adanya pemuda-pemuda tangguh, pemuda yang terlepas dari sebuah ruang privat yang hanya akan menjurus terhadap fested interest semata. Oleh karena itulah dalam hal ini mahasiswa memiliki peran yang strategis dalam setiap sektor pembangunan publik dalam sebuah tata kelola Negara.

Nampaknya, perlu ada sebuah klarifikasi mengenai peran strategis pemuda yang membawa risalah-risalah perubahan. Lalu Mahasiswa yang seperti apa ?? Itu adalah pertanyaan yang mendasar bagi setiap orang dalam menanggapi wacana “mahasiswa sebagai pembawa risalah perubahan ( Agent Of Change)”. Sejatinya mahasiswa bukanlah makhluk suci yang diturunkan dari langit guna membantu mengentasakan setiap permasalahan yang ada di dunia. mahasiswa sama seperti halnya manusia biasa yang diciptakan dari tanah pada awal penciptaannya. Mahasiswa adalah bagian dari masyarakat, dimana ia adalah simbol dari hati nurani rakyat yang turut merasakan pedihnya tirani yang ada dalam suatu negara.

       Banyak kategori-kategori yang melekat dalam sebutan dunia Mahasiswa. Ada yang disebut Mahasiswa kupu-kupu ( kuliah pulang, kuliah pulang), ada mahasiswa kura-kura ( kuliah rapat, kuliah rapat), kuci-kuci (kuliah nyuci, kuliah nyuci), Kuning-kuning (kuliah maning, kuliah maning, ,saking betahnya tuh dikampus, sampai-sampai 14 semester di borong abis).  Ya itulah sebutan yang kerap kali terlintas dalam telinga kita. Lalu mana yang paling ideal? Tegas dikatakan bahwasanya pemuda revolusioner adalah pemuda yang kreatif dan inovatif, visioner dan memiliki keunggulan hati. bukan pemuda yang mati akal dan fikirannya (red ; tidak dikelola dengan baik), bukan pula pemuda yang menggunakan fikirannya tanpa di imbangi nuraninya dalam setiap tindakannya, ataupun pemuda yang fikirannya banyak disusupi oleh hal-hal yang fragmatis (red ; cukel, dangkal, kotor, banyak sarang laba-laba diotaknya). karena Kita tak dapat memandang suatu perubahan dari satu prespektif saja, maka banyak perubahan-perubahan yang mungkin saja itu ideal bagi setiap mahasiswa dalam muaranya kepada peradaban sejati. Biarkan pluralisme menjadi warna dalam setiap langkah pergerakan mahasiswa. karena tanpa warna, pergerakan hanya akan menjadi gelap dan monoton di setiap kurun waktunya. Namu  Jangan biarkan pula “mahasaiswa sebagai agent of change” hanya sekedar menjadi mitos yang beredar dikalangan masyarakat, membutakan mengenai realitas dan harapan masyarakat. Mari bergerak bersama dalam menyongsong perubahan-perubahan menuju muara peradaban sejati. Hidup mahasiswa . . . !