Bergeraklah seindah Mentari pagi menyinari bumi, ia bergerak memberikan kehangatan namun tak membakar. Bergeraklah atas dasar apa yang kalian pelajari dan pahami, bukan sebatas apa yang kalian ketahui. (Semangat Peradaban, DPM FE 2016)
Tampilkan postingan dengan label Pengabdian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengabdian. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Oktober 2014

Pendidikan Kunci Peradaban


Pendidikan bukanlah segalanya, akan tetapi segalanya itu berawal dari Pendidikan.. Kita Tahu bahwasanya Republik ini didirikan oleh kalangan Intelektualis yang semuanya mempunyai pendidikan yang tinggi. Proklamator kita, Bung Karno dan Bung Hatta. Mereka adalah dua diantara sekian banyak konseptor Negara yang mempunyai intelektualias yang tinggi. Bung Karno adalah lulusan teknik pertanian IPB, sedangkan Bung Hatta merupakan lulusan dari Akademi Ekonomi Amsterdam Belanda. Masih banyak lagi Negarawan sekaligus  Konseptor Negara seperti Natsir, Hos Cokro Aminoto, dan lainnya (founding Father) yang memiliki intelektual yang tinggi, dan sudah tentu mereka adalah produk dari adanya Pendidikan.
Bangsa ini didirikan bukan sekedar menggulung kolonialisme semata, akan tetapi bangsa ini hadir dengan membawa janji untuk segenap masyarakatnya. Salah satu dari janji Bangsa ini  adalah “Mencerdaskan kehidupan Bangsa”. Pada umumnya masyarakat yang cerdas akan lahir manakala tingkat intelektualitas, kepribadian, dan kedewasaan masyarakat yang tinggi  dalam menghadapi tantangan Nasional maupun Global. Dalam hal ini pula setiap individu mempunyai tingkat kesetaraan pemikiran dan tindakan yang sama untuk bersama memajukan Bangsa. Dalam mewujudkan Masyarakat yang cerdas hanya dapat dilakukan oleh terselenggaranya pendidikan yang baik (pendidikan yang mampu meminimalkan masalah dan menaikan taraf kemampuan bangsa sesuai tantangan zaman). titik pointnya, pendidikan merupakan syarat bagi terciptanya masyarakat Indonesia yang cerdas dan bermartabat. Jadi,  Membangun Pendidikan,  Adalah Membangun Masa Depan Bangsa.
Ciri Bangsa yang beradab adalah Bangsa yang dekat dengan Pendidikan, sedangkan ciri Bangsa yang tertinggal merupakan Bangsa yang lahir dengan mengesampingkan dunia Pendidikan. Sampai hari ini tentu kita banyak melihat segudang fenomena masalah yang kompleks yang ada di dunia pendidikan kita. Mulai dari tawuran pelajar, Seks bebas, pembunuhan di kalangan pelajar bahkan sampai pada tataran hilangnya Roh dan tujuan dalam pendidikan itu sendiri. Semua itu akan merujuk pada rendahnya mutu pendidikan yang ada di Indonesia. Mutu Pendidikan bangsa kita merupakan yang terendah di Kawasan Asia Tenggara.
Kita masih kalah dengan Negara tetangga kita, yang sudah melesat terlebih dahulu mendahului kita, seperti Malaysia dan Singapore. Padahal sejatinya (Masa Orde Baru) pendidikan yang ada di Negara kita tidaklah dipandang sebelah mata, bahkan pendidikan kita jauh lebih di hormati, sampai-sampai banyak permintaan guru yang berasal dari Indonesia untuk mengajar di Malaysia. Banyak para pakar pendidikan, menemukan masalah yang ada di dunia pendidikan kita. Bahkan dari hulu sampai hilir tak luput dari coretan masalah yang rumit penyelesaiannya. Prof. Frans Shai, Seorang pakar pendidikan lulusan Universitas Freiburg Jerman mengatakan bahwasanya pendidikan di Negara kita itu directive learning, bukan proactive dan innovative learning. Itu yang menjad hambatan untuk bangsa kita dalam menjawab tantangan dan persaingan Global yang makin ketat. Ketidakmampuan atas hambatan ini yang kemudian menyeret masyarakat kita pada ketertinggalan dalam semua bidang. Masyarakat kita hanya bisa jadi penonton di tengah arus globalisasi, paham ideology mereka pun mulai berubah mengikuti paham (Hendonisme, kapitalis, Materialistis, Consumerisme) yang sejatinya sangat bergesekan dengan paham Ideologi yang kita punya (Pancasila).
Indonesia Gold Atau Indonesia Corrupted?
            Tidak sedikit dari dari kita yang sangat percaya diri untuk menggemakan suatu keadaan dimana masyarakat kita akan mengalami titik kegemilangan di abad Ke-21 ini. 2045 seakan menjadi sebuah ramalan untuk tercapainya “Indonesia Gold”. Berbekal dari banyaknya usia produktif semakin menambah optimisme yang berlebihan dari semua kalangan mulai dari masyarakat biasa sampai dengan para pakar pendidikan dan pemerintah. Banyaknya usia produktif bisa kita katakan sebagai  “Bonus Demografi”, tapi bagaimana ketika banyaknya usia produktif yang ada di Negara kita itu tidak terdidik? Its Just Became to Doms Day For Indonesia, Itu akan menjadi sebuah “Bom Waktu” Tersendiri untuk bangsa ini. ketika jumlah yang besar itu tidak terdidik dan terkelola dengan baik. Berapa jumlah pengangguran yang nantinya akan timbul, terlebih Januari 2015 kita akan menghadapi pasar bebas Asean yang sudah tentu itu akan menjadi tantangan bahkan masalah tambahan untuk masyarakat kita, berapa pula pertambahan jumlah gangster, pertumbuhan koloni homo, lesbian dan para maniak seks bebas, para kaum cukong yang mengisi dan menggerogoti Negeri ini? bisa jadi 2045 bukan Indonesia Gold yang kita dapatkan, akan tetapi “Indonesia Corrupted”.
           
Optimisme kemajuan Pendidikan
Bukan saatnya lagi untuk kita, selalu memunculkan sikap kritis pesimistis, sikap yang hanya mengkritik tanpa memberi solusi. Kita Perlu menumbuhkan sikap Optimisme terhadap kemajuan pendidikan yang ada di Negara kita. Banyak deretan keberhasilan bangsa ini yang tidak mampu dilakukan oleh bangsa lain. Pasca kemerdekaan, angka buta huruf masyarakat kita mencapai 98%, saat ini Negara mampu memutar balikan semuanya sehingga angka buta huruf yang kini ada hanya berkisar 2%. Itu sebuah prestasi keberhasilan yang sangat mengagumkan. Tidak ada bangsa lain yang mampu melakukan kerja hebat seperti ini. Masa Orde baru, pendidikan kita juga banyak disegani, di hormati, di hargai oleh bangsa lain. Contohnya adalah Negara tetangga kita, Malaysia. Pada era orde baru, banyak permintaan guru yang datang dari Malaysia, sampai akhirnya banyak pula guru dari kita yang mengajar disana. Kita mempunyai bekal ideologi Negara yang istimewa, yaitu Ideologi pancasila. Pemersatu yang sangat kokoh diantara banyaknya perbedaan. sampai hari ini, masyarakat kita mulai dari sabang sampai pulai merauke, miangas sampai pulai rote. Mereka masih mengakui Indonesia adalah Negara dan  Bangsa kita semua.

Surat Kecil Untuk Bapak/Ibu Dewan

Kepada Bapak Ibu Dewan yang terhormat,
Saya ucapkan selamat kepada anda sekalian yang sudah dilantik dengan begitu hormat, disaksikan seluruh kalangan masyarakat Indonesia. Antara Bangga dan Cemas, namun di antara semua itu tersimpan harapan yang begitu kuat dari kami, Masyarakat kecil Indonesia  kepada kalian para anggota Dewan yang terhormat. Dibalik harapan yang kami minta maka sejatinya anda dihadapkan pada dua persoalan penting yang mesti harus anda lakukan terlebih dulu. Pertama, Mengembalikan Kepercayaan Publik : anda di hadapkan pada persoalan bagaimana mengembalikan kepercayaan public yang selama ini kian merosot. Sebagai Lembaga Representative. Apa yang seharusnya anda lakukan adalah yang sesuai dengan kehendak rakyat, segala macam kebijakan yang anda keluarkan, harus mencerminkan bahwasanya anda adalah wakil rakyat yang dipercaya rakyat untuk menduduki singgah sana nan megah. Bukan untuk menjadi wakil dari kelompok elite, partai, kaum cukong dan mafia yang memarginalkan rakyat kecil. Bukan persoalan mudah tentunya untuk mengembalikan sebuah kepercayaan. 2014-2019, lima tahun jabatan. Adalah waktu bagi anda, untuk membuktikan bahwasanya kami tidak pernah salah untuk memilih wakil rakyat, dan anda adalah wakil yang tepat bagi kami untuk melindungi aspirasi, menyampaikan, sehingga muncul sebuah kebijakan yang Merakyat, kebijakan yang membuat bangsa ini masuk kedalam romantisme Kesejahteraan dan Keadilan. Kemudian permasalahan yang kedua, anda di hadapkan pada masalah Profesionalisme Kerja Dewan : jabatan Dewan merupakan sebuah jabatan yang mempunyai Dualisme Kerja. Satu sisi anda di tuntut untuk bekerja di lapangan (Turun Jalan untuk sebutan Mahasiswa), namun disisi lain anda juga di tuntut untuk membuat sebuah kebijakan yang tentunya Merakyat  (Pro Rakyat). Dua hal ini tak mungkin bisa di pisahkan ketika anda ingin di anggap sebagai anggota Dewan yang baik, anggota Dewan yang mengabdikan diri demi terwujudnya sebuah kerja yang bermanfaat. Anda terpilih, karena kami percaya bahwa anda adalah yang tepat bagi kami untuk menjalankan kerja-kerja tersebut. Namun jika kita melihat belakangan, berapa banyak target kebijakan yang di rancang, namun tercapai dalam realisasinya. Berapa banyak kebijakan yang anda buat, namun bermanfaat untuk kita semua (rakyat Kecil), sampai pada tataran yang lebih penting lagi yaitu berapa banyak kebijakan yang anda buat atas dasar aspirasi dari kami, bukan dari partai, kaum elite, maupun cukong cukong Negara. Tentu itu menjadi sebuah pertanyaan yang nantinya dalam perjalanan lima tahun kedapan akan anda jawab. Jika anda mau pasang badan untuk kami, sudah tentu kami rakyat kecil Indonesia pun akan pasang badan buat anda.

Harapan Rakyat Indonesia.

Kami rakyat Indonesia, tentu akan selalu mengingat segala kebaikan yang anda lakukan. Nama anda tentu akan selalu teringat oleh kami. Begitupun ketika anda melakukan keburukan, bukan hanya nama anda yang akan jelek dimata kami, akan tetapi kutukan lah yang nantinya akan datang kepada anda. Republik ini didirikan bukan hanya sekedar menggulung kolonialisme, akan tetapi republik ini hadir dengan membawa janji suci yang harus di tepati. Anda hadir sebagai anggota Dewan, karena kami berharap dengan jabatan yang anda miliki, akan mampu menghadirkan suasana baru, bersinergi, dan berupaya membuat kebijakan yang mampu tuk melunasi janji-janji kemerdekaan. Anda adalah wakil rakyat, anda adalah kami yang terwakilkan, maka jika ada kebijakan pemerintah yang memarginalkan Rakyat, sudah tentu, anda akan tahu apa yang seharusnya anda lakukan. Harapan kami sangat banyak kepada anda. kebanyakan dari harapan kami, berharap Indonesia 2014 hadir dengan wajah baru, semangat baru untuk menyongsong perubahan dalam peradaban abad ini. Indonesia tanah Air Jaya.

Jumat, 27 Juni 2014

Menagih Janji Kemerdekaan

". . . .Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial"
     Begitulah kiranya pekikan tersirat dari naskah UUD 1945. Sebuah pekikan tersirat nan mengandung begitu banyak amanah dan cita-cita luhur dari para pendiri bangsa ini. Salah satu cita-cita luhur yang tercantum didalamnya adalah "Mencerdaskan Kehidupan Bangsa". Para pendiri bangsa ini sadar bahwasanya pilar dari sebuah peradaban bangsa berakar dari sebuah pendidikan. Negara yang jauh dan mengesampingkan nilai-nilai pendidikan maka dapat dipastikan bahwasanya negara tersebut akan jauh pula dari harumnya semerbak peradaban.

      Dalam ungkapannya Anies Baswedan mengungkapkan suatu pernyataan menarik,"Jika ingin membangun Bangsa, maka bangunlah manusianya terlebih dahulu". Hal ini begitu selaras pula dengan teori yang dikemukakan oleh Meier & Stighlitz (2011)bahwasanya teori pembangunan berevolusi dari pandangan modal sebagai sumber daya utama menjadi manusia sebagai titik sentral pembangunan. membangun manusia tentunya tidak lepas dari pembangunan dalam dunia pendidikan itu sendiri, karena sejatinya manusia di bentuk dan di tempat dalam dunia pendidikan, mulai dari pendidikan primer (orang tua) sampai dengan pendidikan Formal/non Formal (lembaga Pendidikan).

     Pra dan Pasca kemerdekaan, api semangat membangun bangsa ini begitu nampak kuat di dalam semangat masyarakat. berbagai elemen dari sabang sampai dengan merauke, dari pulau miangas sampai dengan rote mereka saling bahu membahu dalam menytumbangkan sejumlah iuran untuk bangsa ini. Ada yang iuran Pikiran, Tenaga, modal, bahkan sampai dengan merelakan tetes darahnya untuk bangsa ini. Alasan mereka bukan untuk bagaimana nantinya anak cucunya dapat menikmati hasil dari iuran tersebut, akan tetapi yang demikian adalah sebuah perjuangan dan pengorbanan yang mereka ikhlaskan untuk bangsa ini, tanpa mengharap imbalan nantinya.
 Namun nampaknya semakin hari masyarakat semakin amnesia terhadap amanat, cita-cita dan janji bersama yang tertuang dalam naskan mulia UUD 1945. Salah besar ketika kebanyakan dari masyarakat kita mengartikan bahswasanya usaha kemerdekaan hanya sebatas menggulung kolonialisme yang merugikan masyarakat, akan tetapi usaha kemerdekaan tersebut untuk menggelar keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya. Inilah yang harus kita perjuangkan guna melunasi janiji-janji kemerdekaan yang telah kian lama terasingkan oleh kepentingan-kepentingan golongan, pribadi dan kepentingan yang mengabaikan nilai-nilai luhur yang telah di sepakati bersama.

         "Lebih baik menyalakan lilin, dari pada harus mengutuk kegelapan". (Anies Baswedan)

          Begitulah ungkapannya ketika melihat fenomena-fenomena masalah yang terjadi pada sistem pendidikan kita saat ini. kita diajak bagaimana berfikir menuju generasi yang kritis optimis, yaitu generasi yang tidak hanya memberikan kritik-kritik saja, akan tetapi mampu memberikan solusi-solusi nyata bagi setiap permasalahan yang ada dalam ranah pendidikan. dari hasil studi lapangan bahwasanya masigh banyak sekali problem yang harus kita benahi dalam sektor pendidikan mulai dari sistem dan aturan sampai dengan kapabilitas seorang guru dalam mendidik, dari segi manusia anies memandangf bahwasanya ada tiga hal yang menjadi pokok permasalahan Human Resource dalam Pendidikan.

1. Kapabilitas Seorang Pendidik
       Masih banyak pendidik yang ada dalam bangsa ini yang kurang mengerti akan jati diri yang sebenarnya sebagai seoarang pendidik. kebanyakan mereka masih terpaku dengan paradigma bahwasanya pendidikan hanya dinilai sebagai profesi semata, tidak banyak dari mereka yang berfikiran bahwasanya menjadi seorang pendidik adalah sebuah tanggung jawab moral yang tinggi, yang nantinya akan di pertanggungjawabkan kepada Tuhan, bangsa, dan Negara, tentunya demi sebuah pencerahan yang nantinya di berikan kepada anak-anak Negeri.

2. Distribusi Pendidik
     Ada anggapan bahwasanya pembangunan yang ada di bangsa ini masih berpusat di jawa. Ya itu benar. Betapa kita lihat dan bandingkan (Sektor Pendidikan) antara sekolah-sekolah yang ada di luar pulau jawa-dengan yang ada di pulau jawa, maka dapat kita rasakan bahwasanya masih lah banyak ketimpangan dan kesenjangan yang ada di dalamnya, betapa tidak, bahwasanya pendidik-pendidik yang masuk dalam kualitas menengah keatas, semuanya masih berpusat untuk mendidik di Pulau jawa saja, sedangkan untuk pulau luar jawa sungguh masih banyak kekurangan stock pendidik yang berkualitas. maka berkaca dengan itu perlu adantya suatu distribusi pemerataan untuk kalangan pendidik menengah keatas agar dapat mengurangi kesenjangan dan ketimpangan yang ada.

3. Kesejahteraan Pendidik
     Dahulu Ketika nagasaki dan Hirosima (jepang) terkena imbas dari adanya perang dunia ke 2, dimana pada saat itu kedua kota di jepang tersebut luluh lantah karena bom bardir nuklir dari sekutu, maka pasca pemboman tersebut. Oleh kaisar yang  saat itu masih menjabat, hal yang pertama kali ditanya dia adalah "Berapa jumlah Guru yang masih tersisa disini" lantas kemudia sang kaisar mengerahkan energi besar-besaran untuk melakukan restorasi salah satunya adalah membangun kembali pendidikan pasca perang dunia 2, salah satunya adalah dengan menghargai guru sebagai sebagai profesi dan gerakan moral untuk bangkit. hal itu pula tidak di simbolkan dengan retorika-retorikan semata, akan tetapi dengan sebuah bentuk penghargaan yang nyata kepada guru yang masih tersisa yaitu dengan membayar mahal untuk profesi tersebut. coba kita bandingkan dengan apa yang ada diindonesia, dimana formalitaslah yang dibayart mahal tanpa memperhatikan kesungguhan seorang pendidik dalam mengabdikan dirinya untuk ikut serta dalam melunasi janji-janji kemerdekaan. Betapa resah hati ini ketika melihat masih banyak guru honorer yang hanya di bayar 150rb saja dalam sebulan. sungguh amat timpang.

    Jika ketiga hal diatas dapat teratasi, maka sesungguhnya tidak ada yang tidak mungkin untuk mengangkat kualitas pendidikan di Indonesia menjadi kualitas yang sejajar dengan pendidikan nomor 1 dunia (venezuela). yang terpenting dan dapat kita lakukan disini adalah sesuai dengan apa yang Anies baswedan sampaikan, bahwasanya lebih baik menyalakan lilin dari pada mengutuk kegelapan, meningkatkan kapabilias diri menjadi generasi yang kritis optimis, bukan generasi kritis pesimis, generasi yang hanya bisa mengkritik tanpa ada solusi-solusi yang ditawarkan. Mari Turun Tangan, untuk pendidikan yang lebih baik. Bersama "Indonesia Mengajar".

The future of the nation, is in our hands


Masa lalu, masa kini dan masa depan adalah serangkaian waktu yang saling bersinergis dalam membentuk sebuah peradaban. Semua itu berputar seperti hal nya perjalanan hidup manusia, dari mulai bayi, anak-anak, remaja sampai dengan orang tua yang nantinya mau tidak  mau harus terkubur dalam himpitan tanah yang begitu gelap. Masa lalu adalah masa yang hanya dapat dikenang dan dijadikan sebuah pelajaran berharaga oleh setiap insan yang sudah terlepas dari ego masa kini. Seperti yang bung karno katakan pada masanya.

“Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca benggala dari masa yang akan datang” (dalam pidatonya di HUT Proklamasi 1966). Dan masa kini adalah masa yang harus dijalani, masa dimana semua impian kedepan digagas didalamnya. Sedangkan masa depan adalah suatu prediksi ketidak pastian atas rumusan yang telah dibuat pada masa sekarang dengan bercermin pada cerita masa lalu (Masa lalu). Masa depan adalah suatu hal yang harus benar-benar kita konsep menjadi sebuah hal yang nantinya akan mampu membawa kita menjadi bagian dari sejarah umat. Bagian dari perdaban-peradaban cemerlang hasil buah karya manusia, bukan hanya menjadi bangsa yang hidup di pinggiran sejarah.

Indonesia  adalah salah satu bangsa yang berpotensi menjadi salah satu negara yang terombang-ambingkan dalam lautan sejarah jikalau semangat pemuda revolusioner tidak ada lagi di negeri ini. Semangat minoritas yang tidak bisa mengalahkan kaum hedonisme mayoritas.

“Perjuanganku lebih mudah karena hanya melawan penjajah, tapi perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri ” (Pidato bung karno saat HUT Proklamasi 1963)

Pada era penjajahan , tantangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia hanyalah satu semata. Yaitu bagaimana ia bisa melepaskan diri dari belenggu penyiksaan, belenggu perenggut kebebasan asasi manusia, yaitu penjajahan. Bangga Indonesia hanya dihadapkan pada  masalah bagaimana cara untuk menjadi sebuah bangsa yang merdeka. Menjadi sebuah Negara yang merdeka yang tentunya adalah dengan cara mengusir para penjajah dengan jalan perang. Namun lain halnya dengan perjuangan pada era saat ini, khususnya pasca reformasi dimana banyak sekali problematika yang melanda bangsa ini, mulai dari sistem yang ada didalamnya sampai dengan tekanan-tekanan yang datang dari luar. Semua itu bercampur, dan menjadi suatu hal yang komperehensif yang menjadikan bangsa Indonesia menjadi dipandang sebelah mata oleh bangsa-bangsa yang lainnya. Ini jelas tantangan yang lebih sulit dibandingkan dengan mengusir para penjajah. Seandainya tumbuhan, tambang-tambang emas, tambang batu bara, kandungan minyak bumi Indonesia, mereka semuanya dapat berbica, maka setidaknya satu hal yang mereka katakan adalah “Kami ingin para pendiri bangsa ini dibangkitkan untuk memimpin kami kembali”. Penataan masa depan harus benar-benar ditanamkan dalam setiap benak individu masyarakat Indonesia, Penataan yang mengarah pada seluruh sendi kehidupan, bukan penataan yang mencoba mengarahkan semuanya menjadi satu hal yang monoton. Mulai dari sumber daya manusia, Alam, hingga sumber daya buatan manusia. Itulah yang yang harusnya bisa difikirkan oleh mereka yang duduk diatas sana, harus memikirkan pula untuk mengubah mindset dari politikus menjadi seorang nagarawan sejati.

Menagih Janji Kemerdekaan

". . . .Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial"
     Begitulah kiranya pekikan tersirat dari naskah UUD 1945. Sebuah pekikan tersirat nan mengandung begitu banyak amanah dan cita-cita luhur dari para pendiri bangsa ini. Salah satu cita-cita luhur yang tercantum didalamnya adalah "Mencerdaskan Kehidupan Bangsa". Para pendiri bangsa ini sadar bahwasanya pilar dari sebuah peradaban bangsa berakar dari sebuah pendidikan. Negara yang jauh dan mengesampingkan nilai-nilai pendidikan maka dapat dipastikan bahwasanya negara tersebut akan jauh pula dari harumnya semerbak peradaban.

      Dalam ungkapannya Anies Baswedan mengungkapkan suatu pernyataan menarik,"Jika ingin membangun Bangsa, maka bangunlah manusianya terlebih dahulu". Hal ini begitu selaras pula dengan teori yang dikemukakan oleh Meier & Stighlitz (2011)bahwasanya teori pembangunan berevolusi dari pandangan modal sebagai sumber daya utama menjadi manusia sebagai titik sentral pembangunan. membangun manusia tentunya tidak lepas dari pembangunan dalam dunia pendidikan itu sendiri, karena sejatinya manusia di bentuk dan di tempat dalam dunia pendidikan, mulai dari pendidikan primer (orang tua) sampai dengan pendidikan Formal/non Formal (lembaga Pendidikan).

     Pra dan Pasca kemerdekaan, api semangat membangun bangsa ini begitu nampak kuat di dalam semangat masyarakat. berbagai elemen dari sabang sampai dengan merauke, dari pulau miangas sampai dengan rote mereka saling bahu membahu dalam menytumbangkan sejumlah iuran untuk bangsa ini. Ada yang iuran Pikiran, Tenaga, modal, bahkan sampai dengan merelakan tetes darahnya untuk bangsa ini. Alasan mereka bukan untuk bagaimana nantinya anak cucunya dapat menikmati hasil dari iuran tersebut, akan tetapi yang demikian adalah sebuah perjuangan dan pengorbanan yang mereka ikhlaskan untuk bangsa ini, tanpa mengharap imbalan nantinya.
 Namun nampaknya semakin hari masyarakat semakin amnesia terhadap amanat, cita-cita dan janji bersama yang tertuang dalam naskan mulia UUD 1945. Salah besar ketika kebanyakan dari masyarakat kita mengartikan bahswasanya usaha kemerdekaan hanya sebatas menggulung kolonialisme yang merugikan masyarakat, akan tetapi usaha kemerdekaan tersebut untuk menggelar keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya. Inilah yang harus kita perjuangkan guna melunasi janiji-janji kemerdekaan yang telah kian lama terasingkan oleh kepentingan-kepentingan golongan, pribadi dan kepentingan yang mengabaikan nilai-nilai luhur yang telah di sepakati bersama.

         "Lebih baik menyalakan lilin, dari pada harus mengutuk kegelapan". (Anies Baswedan)

          Begitulah ungkapannya ketika melihat fenomena-fenomena masalah yang terjadi pada sistem pendidikan kita saat ini. kita diajak bagaimana berfikir menuju generasi yang kritis optimis, yaitu generasi yang tidak hanya memberikan kritik-kritik saja, akan tetapi mampu memberikan solusi-solusi nyata bagi setiap permasalahan yang ada dalam ranah pendidikan. dari hasil studi lapangan bahwasanya masigh banyak sekali problem yang harus kita benahi dalam sektor pendidikan mulai dari sistem dan aturan sampai dengan kapabilitas seorang guru dalam mendidik, dari segi manusia anies memandangf bahwasanya ada tiga hal yang menjadi pokok permasalahan Human Resource dalam Pendidikan.

1. Kapabilitas Seorang Pendidik
       Masih banyak pendidik yang ada dalam bangsa ini yang kurang mengerti akan jati diri yang sebenarnya sebagai seoarang pendidik. kebanyakan mereka masih terpaku dengan paradigma bahwasanya pendidikan hanya dinilai sebagai profesi semata, tidak banyak dari mereka yang berfikiran bahwasanya menjadi seorang pendidik adalah sebuah tanggung jawab moral yang tinggi, yang nantinya akan di pertanggungjawabkan kepada Tuhan, bangsa, dan Negara, tentunya demi sebuah pencerahan yang nantinya di berikan kepada anak-anak Negeri.

2. Distribusi Pendidik
     Ada anggapan bahwasanya pembangunan yang ada di bangsa ini masih berpusat di jawa. Ya itu benar. Betapa kita lihat dan bandingkan (Sektor Pendidikan) antara sekolah-sekolah yang ada di luar pulau jawa-dengan yang ada di pulau jawa, maka dapat kita rasakan bahwasanya masih lah banyak ketimpangan dan kesenjangan yang ada di dalamnya, betapa tidak, bahwasanya pendidik-pendidik yang masuk dalam kualitas menengah keatas, semuanya masih berpusat untuk mendidik di Pulau jawa saja, sedangkan untuk pulau luar jawa sungguh masih banyak kekurangan stock pendidik yang berkualitas. maka berkaca dengan itu perlu adantya suatu distribusi pemerataan untuk kalangan pendidik menengah keatas agar dapat mengurangi kesenjangan dan ketimpangan yang ada.

3. Kesejahteraan Pendidik
     Dahulu Ketika nagasaki dan Hirosima (jepang) terkena imbas dari adanya perang dunia ke 2, dimana pada saat itu kedua kota di jepang tersebut luluh lantah karena bom bardir nuklir dari sekutu, maka pasca pemboman tersebut. Oleh kaisar yang  saat itu masih menjabat, hal yang pertama kali ditanya dia adalah "Berapa jumlah Guru yang masih tersisa disini" lantas kemudia sang kaisar mengerahkan energi besar-besaran untuk melakukan restorasi salah satunya adalah membangun kembali pendidikan pasca perang dunia 2, salah satunya adalah dengan menghargai guru sebagai sebagai profesi dan gerakan moral untuk bangkit. hal itu pula tidak di simbolkan dengan retorika-retorikan semata, akan tetapi dengan sebuah bentuk penghargaan yang nyata kepada guru yang masih tersisa yaitu dengan membayar mahal untuk profesi tersebut. coba kita bandingkan dengan apa yang ada diindonesia, dimana formalitaslah yang dibayart mahal tanpa memperhatikan kesungguhan seorang pendidik dalam mengabdikan dirinya untuk ikut serta dalam melunasi janji-janji kemerdekaan. Betapa resah hati ini ketika melihat masih banyak guru honorer yang hanya di bayar 150rb saja dalam sebulan. sungguh amat timpang.

    Jika ketiga hal diatas dapat teratasi, maka sesungguhnya tidak ada yang tidak mungkin untuk mengangkat kualitas pendidikan di Indonesia menjadi kualitas yang sejajar dengan pendidikan nomor 1 dunia (venezuela). yang terpenting dan dapat kita lakukan disini adalah sesuai dengan apa yang Anies baswedan sampaikan, bahwasanya lebih baik menyalakan lilin dari pada mengutuk kegelapan, meningkatkan kapabilias diri menjadi generasi yang kritis optimis, bukan generasi kritis pesimis, generasi yang hanya bisa mengkritik tanpa ada solusi-solusi yang ditawarkan. Mari Turun Tangan, untuk pendidikan yang lebih baik. Bersama "Indonesia Mengajar".