Bergeraklah seindah Mentari pagi menyinari bumi, ia bergerak memberikan kehangatan namun tak membakar. Bergeraklah atas dasar apa yang kalian pelajari dan pahami, bukan sebatas apa yang kalian ketahui. (Semangat Peradaban, DPM FE 2016)
Tampilkan postingan dengan label Perjuangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perjuangan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Oktober 2014

We Are Making History

     
     Sesungguhnya perjalanan panjang Bangsa ini, tak pernah lepas dari perjuangan para pahlawan dalam menegakan kehormatan Republik ini. mulai dari tenaga, pikiran, bahkan tak jarang nyawapun menjadi taruhan untuk melihat bangsa ini lepas dari penindasan kolonial, mereka tidak berfikir dan bekerja untuk diri sendiri, melainkan mereka bekerja atas nama satu rasa "Rakyat Indonesia". hingga hari ini kita dapat menikmati dengan leluasanya deretan perjuangan mereka yang telah di berikan untuk Bangsa ini.

      kita melihat 100 tahun silam, ketika para pemuda dari seluruh nusantara, menyatukan gagasan, pikiran, dan menyatukan raganya untuk dapat melihat Indonesia nan Gagah, padahal pada masa itu keterbatasanan senantiasa menghalangi mereka, perpisahan jarak yang di tandai dengan banyaknya perairan, transportasi darat yang minim dan lain sebagainya, namun tak jadi sebuah persoalan yang rumit nampaknya bagi mereka (pemuda Nusantara) dalam merealisasikan cita-cita nan luhur untuk bangsa ini. kita pemuda masa kini patutnya meniru sebuah kerja keras yang di lakukan mereka dalam menggapai cita-cita untuk Indonesia. kerja keras kita yang nantinya akan menjadi sebuah contoh pula untuk pemuda Indonesia selanjutnya.
     kita harus membuat sejarah baru. Sejarah yang mampu di kenang anak cucu Indonesia, atau bersyukur bisa di kenang sebagai bagian dari peradaban dunia. kita lakukan mulai dari yang terkecil, mulai dari diri kita sendiri dan, Mulai dari Sekarang ! Do it.

Senin, 20 Oktober 2014

Surat Kecil Untuk Bapak/Ibu Dewan

Kepada Bapak Ibu Dewan yang terhormat,
Saya ucapkan selamat kepada anda sekalian yang sudah dilantik dengan begitu hormat, disaksikan seluruh kalangan masyarakat Indonesia. Antara Bangga dan Cemas, namun di antara semua itu tersimpan harapan yang begitu kuat dari kami, Masyarakat kecil Indonesia  kepada kalian para anggota Dewan yang terhormat. Dibalik harapan yang kami minta maka sejatinya anda dihadapkan pada dua persoalan penting yang mesti harus anda lakukan terlebih dulu. Pertama, Mengembalikan Kepercayaan Publik : anda di hadapkan pada persoalan bagaimana mengembalikan kepercayaan public yang selama ini kian merosot. Sebagai Lembaga Representative. Apa yang seharusnya anda lakukan adalah yang sesuai dengan kehendak rakyat, segala macam kebijakan yang anda keluarkan, harus mencerminkan bahwasanya anda adalah wakil rakyat yang dipercaya rakyat untuk menduduki singgah sana nan megah. Bukan untuk menjadi wakil dari kelompok elite, partai, kaum cukong dan mafia yang memarginalkan rakyat kecil. Bukan persoalan mudah tentunya untuk mengembalikan sebuah kepercayaan. 2014-2019, lima tahun jabatan. Adalah waktu bagi anda, untuk membuktikan bahwasanya kami tidak pernah salah untuk memilih wakil rakyat, dan anda adalah wakil yang tepat bagi kami untuk melindungi aspirasi, menyampaikan, sehingga muncul sebuah kebijakan yang Merakyat, kebijakan yang membuat bangsa ini masuk kedalam romantisme Kesejahteraan dan Keadilan. Kemudian permasalahan yang kedua, anda di hadapkan pada masalah Profesionalisme Kerja Dewan : jabatan Dewan merupakan sebuah jabatan yang mempunyai Dualisme Kerja. Satu sisi anda di tuntut untuk bekerja di lapangan (Turun Jalan untuk sebutan Mahasiswa), namun disisi lain anda juga di tuntut untuk membuat sebuah kebijakan yang tentunya Merakyat  (Pro Rakyat). Dua hal ini tak mungkin bisa di pisahkan ketika anda ingin di anggap sebagai anggota Dewan yang baik, anggota Dewan yang mengabdikan diri demi terwujudnya sebuah kerja yang bermanfaat. Anda terpilih, karena kami percaya bahwa anda adalah yang tepat bagi kami untuk menjalankan kerja-kerja tersebut. Namun jika kita melihat belakangan, berapa banyak target kebijakan yang di rancang, namun tercapai dalam realisasinya. Berapa banyak kebijakan yang anda buat, namun bermanfaat untuk kita semua (rakyat Kecil), sampai pada tataran yang lebih penting lagi yaitu berapa banyak kebijakan yang anda buat atas dasar aspirasi dari kami, bukan dari partai, kaum elite, maupun cukong cukong Negara. Tentu itu menjadi sebuah pertanyaan yang nantinya dalam perjalanan lima tahun kedapan akan anda jawab. Jika anda mau pasang badan untuk kami, sudah tentu kami rakyat kecil Indonesia pun akan pasang badan buat anda.

Harapan Rakyat Indonesia.

Kami rakyat Indonesia, tentu akan selalu mengingat segala kebaikan yang anda lakukan. Nama anda tentu akan selalu teringat oleh kami. Begitupun ketika anda melakukan keburukan, bukan hanya nama anda yang akan jelek dimata kami, akan tetapi kutukan lah yang nantinya akan datang kepada anda. Republik ini didirikan bukan hanya sekedar menggulung kolonialisme, akan tetapi republik ini hadir dengan membawa janji suci yang harus di tepati. Anda hadir sebagai anggota Dewan, karena kami berharap dengan jabatan yang anda miliki, akan mampu menghadirkan suasana baru, bersinergi, dan berupaya membuat kebijakan yang mampu tuk melunasi janji-janji kemerdekaan. Anda adalah wakil rakyat, anda adalah kami yang terwakilkan, maka jika ada kebijakan pemerintah yang memarginalkan Rakyat, sudah tentu, anda akan tahu apa yang seharusnya anda lakukan. Harapan kami sangat banyak kepada anda. kebanyakan dari harapan kami, berharap Indonesia 2014 hadir dengan wajah baru, semangat baru untuk menyongsong perubahan dalam peradaban abad ini. Indonesia tanah Air Jaya.

Sabtu, 19 Juli 2014

Semangat PPA, Semangat Baru Perubahan

     Detik hari menjelang PPA kini makin dekat di rasa. berbagai segala macam bentuk persiapan nampaknya juga telah dikerahkan semaksimal mungkin dalam menyambut calon mahasiswa baru, mahasiswa pembawa risalah perubahan. Ya Perubahan. memang sejatinya perubahan itu ada di tangan kita sebagai mahasiswa dan mereka yang dalam hitungan hari akan bergabung pula dengan kita dalam membawa risalah perubahan itu. 
    PPA ajang terciptanya semangat baru dalam pergerakan yang telah kita lalui sebelumnya. segala macam kejenuhan yang mungkin kita rasakan, segala bentuk kekacauan pikiran akibat terlalu banyak mengkonsumsi miss dalam organisasi, sejatinya itu semua akan terobati pasca PPA. dimana ketika semua hal itu muncul maka semangat dari mahasiswa barulah yang mampu mendobrak kita semua kembali pada tujuan awal. membawa perubahan secara tuntas demi terciptanya peradaban sejati. 
     Mahasiswa baru merupakan lahan garapan yang paling potensial diantara kumpulan mahasiswa yang sudah in-idealis. maka sejatinya lahan yang potensial ini kita harus menggunakan usaha yang maksimal pula untuk menggarap ladang tersebut menuju aspek kebaikan. jangan sampai lahan ini hilang dimakan oleh kelompok keburukan yang ada di sekitar kita.
   Ada sebuah kekhawatiran sendiri menjelang dan dalam waktu menanti datangnya PPA. Kekhawatiran itu muncul sebagai respon dari ketidaksiapan kita dalam mempersiapkan semuanya. bisa karena kemalasan, ataupun justru ketidaksiapan muncul dikarenakan karena banyaknya program kerja yang kita laksanakan sehingga mengabaikan sejumlah persiapan untuk sahabat yang nantinya akan bergabung bersama kita (Mahasiswa). Dampak dari adanya ketidaksiapan tersebut biasanya akan mengarah kepada kita lagi nantinya. sebagai contoh sebuah anggapan yang sudah menjadi budaya dari kita adalah "banyak mahasiswa yang mainstreem, banyak mahasiswa yang apatis" ataupun lain sebagainya. Padahal sejatinya "tidak ada mahasiswa yang apatis, melainkan justru adanya kekurang cerdasan kita dalam menyampaikan", dan itulah salah satu akibat dari kekurangsiapan kita. yang sebenarnya akibat lain yang di timbulkanpun masih banyak termasuk pada ranah pengkaderan. Sebuah hal yang harus di garis bawahi adalah "bahwasanya segala bentuk persiapan jangan sampai hanya mengantarkan calon mahasiswa baru kepada "sheet oriented", akan tetapi hal yang seharusnya lebih di dominasikan adalah "Change Oriented". Oleh karena itu salah satu bekal yang teramat penting bagi kita adalah mempersiapkan Road map/legal drafting/blue print atau yang lain untuk mereka(Sense of Direction).

Sukses PPA, Sukses Peradaban.
DPM FE Unnes 2014

Selasa, 15 Juli 2014

Salam Untuk Gaza


        Ramadhan ini, seakan menjadi hal yang kedua kalinya dimana keceriaan sahabat kita, di renggut, di rampas, dan dimusnahkan atas nama Kemunafikan Israhell. ketika kita setiap hari berbuka puasa masih bisa di temani semangkuk kolak buatan ibu, hidangan lezat lagi melezatkan lidah, dan serta hiburan selagi menikmati hidangan.maka tidak lagi dengan sahabat kita di palestine, tidak dengan sahabat kita yang berada di Gaza. Jangan kan semangkok kolak, untuk meminum air putih pun mereka masih sangat berat perjuangannya, jangankan pula hiburan, untuk menenangkan kecemasanpun masih terasa amat berat rasanya. bunyi roket, senapan tentara Israhell, dan bom-bom yang di lemparkan Israhell, itu lah yang senantiasa menemani sahabat kita disana. tentu jika kita membayangkanpun tidak sanggup, Apalagi ketika kita harus mendapati suasana yang sesungguhnya disana. Sudah tidak terhitung lagi berapa jumlah darah yang ditumpahkan, anak-anak yang di renggut keceriaanya bahkan mereka hidup tanpa asuhan ayah dan ibu. Semua karena kemuanafikan,kemunafikan siapa? its "IsraHell". mereka mengatasnamakan diri sebagai negara yang memberantas terorisme, tapi ketahuilah bahwa mereka sendirilah yang sejatinya Teroris, bahkan bisa dibilang Rajanya Teroris. Mereka bersepakat, namun mereka pula yang mengingkari, atapun menuduh dengan segala rekayasanya untuk mengingkari sebuah kesepakatan. mereka punya raga manusia, namun berhati seperti "Monkey". its Israhell, yaa itu Israhell.

        Shahabat, ketahuilah ketika dunia bisu, seakan tuli dengan apa yang ada di Bumi gaza, maka sejatinya banyak hal yang harusnya kita lakukan sebagai pemuda. pemuda dengan segala motivasi yang cukup tinggi terlebih ketika bisa digunakan untuk kebaikan, maka itu lah yang menjadi dasar bagi apa yang harus kita lakukan. Ikut perang? nampaknya itu tak mungkin, kecuali atas kerelaan kalian, atau bisa nih pemuda yang hobi perkelahian, tawuran dan kerusuhan, daripada tidak membekas apa yang kalian lakukan mending ikut saja ke Gaza, Gunakan kemampuanmu, senjata yang kalian gunakan untuk tawuran , Gunakanlah semua itu untuk membantu sahabat kita di Gaza yang hanya berbekal batu untuk melawan Kemunafikan Israhell. itu baru laki-laki Bro. Do'a senantiasa kita selalu panjatkan kepada Tuhan, agar senantiasa sahabat kita di Gaza mendapatkan pertolongan Dari-NYA,apa yang kita punya, bisalah kita sumbangkan. walau sedikit akan sangat berarti bagi mereka. setidaknya kita berkaca dari mereka, betapa tidak, ketika Indonesia diguncang Tsunami, maka negara yang salah satunya menyumbang material berupa berasa adalah Palestine, padahal untuk makan rakyatnya pun mereka masih sulit. apa tidak malu dengan mereka?
        sahabat,tentulah hari ini kita merindukan Organisasi Negara yang mampu mengayomi, memberikan rasa keadilan, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Kan ada PBB?. PBB? serius?, bukannya PBB seakan bisu dan tuli menanggapi masalah palestine yang sejatinya adalah masalah kemanusiaan? Ya, Itu sangat jelas, tergambar dari banyaknya negara yang mengecam Israhell namun PBB kurang respect dalam menanggapinya. PBB didirikan sebagai bentuk representative dari segala kajahatan (Nagara) yang berhubungan dengan HAM. namun ketika ada pelanggaran HAM, mass genocide tidak ada solusi, respect dan aksi cepat dari Organisasi Dunia itu, maka boleh dong kalo dibubarkan saja. Amerika Merupakan negara yang memprakarsai berdirinya PBB, sekaligus ia merupakan negara adidaya dunia. banyak tentunya yang menjadi arahan PBB  yang dipengaruhi oleh Amerika, baik dalam bentuk kebijakan maupun aksi atas solusi yang diberikan termasuk salah satunya adalah terkait solusi atas palestine. tidak ada keberpihakan pada keadilan, ya jelas laah. kalau diibaratkan Amerika adalah penggembala, sedangkan Israhell adalah lembunya. Sistem Drone (Penangkal rudal) yang di kembangkan Israhell, semua itu di biayai oleh Amerika. wow, baik amat amerika yah, sampai menggelontorkan banyak dana untuk lembunya. Ya itulah hubungan antara penggembala dan lembunya. Penggembala menjaga lembu, dan lembu memberikan hasil kepada penggembala.


Salam Untuk Gaza
        Kecerian mereka adalah kecerian kita. tangisan mereka, adalah tangisan kita pula. kita sebagai pemuda harusnya tahu apa yang harus kita lakukan. semangat ini jangan pernah dilunturkan oleh hendonisme yang ada dalam diri kita masing-masing. Semangat yang berorientasi pada kebenaran, dan menjunjung tinggi kemanusiaan serta menumpas segala bentuk penindasan yang ada di muka bumi ini. ketika hari ini kita memposisikan diri sebagai bagian dari pemuda dunia maka secara otomatis masalah yang ada di palstine adalah masalah kita bersama. bergeraklah atas nama kebenaran, hilangkan segala bentuk penindasan. lebih baik menyalakan lilin daripada harus mengkutuk kegelapan. lebih baik kita membantu dengan kemampuan kita, dari pada harus berkoar-koar dimedia masa, namun sedikitpun tidak membantu. contohnya? kita menyerukan keadilan bagi paestina, mengutuk Israhell namun kita sendiri masih menggunakan produk Israhell, atau produk yang menyumbangkan donasi untuk perang di Israhell. That Real guys. . Salam, Doa, dan bantuan kita senantiasa untuk Palestina (will be Free). Show your Support n Show the worl they not alone.

#RiffbenyaminNetanyahu


Salam Peradaban, :-)

Rabu, 02 Juli 2014

Tuhan memberi yang terbaik bagi hamba-NYA yang bersabar

Oleh : Ibnu Ramadhany

     Mengirup nafas-nafas kehidupan yang luar biasa, menghembuskan indahnya cinta kasih kepada-NYA. Cinta atas dasar keikhlasan, cinta atas dasar pengabdian dan  cinta yang di dasari oleh tegaknya tauhid dalam sanubari. Cinta murni yang hanya patut dipersembahkan kepada Sang Pemberi petunjuk dalam setiap keletihan hidup, Keletihan-keletihan dalam setiap lekak perjuangan. perjuangan yang tanpa-NYA hanya sekedar mampu mengantarkan manusia kepada lembah kesombongan, keangkuhan dan tak mampu menjadi teladan terbaik bagi sekelilingnya.
 Allah menciptakan siang, Dia juga menciptakan malam. Allah menciptakan adam maka ia pula yang menciptakan hawa, dan Allah menciptakan yang sekiranya itu adalah masalah baginya maka allah pula yang selalu menuntun hamba-NYA ke arah yang lebih baik, yang sekiranya itu adalah obat baginya. Sungguh Begitu indah keseimbangan dalam genggaman-NYA. Dalam Kalam nan indah Allah berfirman :
“ Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya”. (QS. Al Anbiyaa’ : 33)
Mahabenar Allah dengan segala firman-NYA. Dan sungguh Allah menciptakan semua itu dengan tujuan yang benar. Tujuan agar rahmat Allah benar-benar singgah dalam setiap pribadi muslim, muslim yang selalu mengambil ibrah dari semua yang Allah gariskan.
Ketika hati tak berbenah, mulai ragu dalam setiap bahasan sanubari, ketika lisan mulai tak bisa dibasahai oleh indah-NYA kalimat-kalimat dzikir kepada-NYA, dan Ketika tingkah acapkali tak seirama dengan tuntunan-NYA. Maka sungguh itulah orang-orang yang tidak bisa mengarahkan hidupnya kedalam nikmatnya islam, indahnya iman, dan kegermelapan ikhsan dalam hati, itu lah orang-orang yang sungguh akan terbebani dengan irama sulap dunia ini.
Masalah dunia adalah masalah yang semu, masalah yang dimana acapkali seorang hamba tergelintir dalam pemecahannya. Terkadang apa yang di gariskan oleh Allah tidak semua manusia dapat mengetahuinya, dan apa yang diharapkannya seringkali tak sesuai dengan apa yang Allah gariskan. “Manusia tak akan pernah mengetahui dibalik indahnya suatu nikmat yang Allah berikan kepadanya dan tak pernah pula mengetahui apa yang ada dibalik ujian yang menerpanya”.

Semakin tinggi keyakinan seorang hamba, maka semakin berat pula ujiannya, tapi ketahuilah bahwa semakin dekat pula jarak antara surga dengannya. Sungai mengalir pasti ada ujungnya, masalah mendera pasti ada kelarnya. mohon lah untuk setiap masalah hanya kepada-NYA melalui 2 hal, dua hal yang sudah di janjikan-NYA untuk setiap permasalahan, yatu sabar dan sholat. Jangan menyerah. . . :-)


Jumat, 27 Juni 2014

Menagih Janji Kemerdekaan

". . . .Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial"
     Begitulah kiranya pekikan tersirat dari naskah UUD 1945. Sebuah pekikan tersirat nan mengandung begitu banyak amanah dan cita-cita luhur dari para pendiri bangsa ini. Salah satu cita-cita luhur yang tercantum didalamnya adalah "Mencerdaskan Kehidupan Bangsa". Para pendiri bangsa ini sadar bahwasanya pilar dari sebuah peradaban bangsa berakar dari sebuah pendidikan. Negara yang jauh dan mengesampingkan nilai-nilai pendidikan maka dapat dipastikan bahwasanya negara tersebut akan jauh pula dari harumnya semerbak peradaban.

      Dalam ungkapannya Anies Baswedan mengungkapkan suatu pernyataan menarik,"Jika ingin membangun Bangsa, maka bangunlah manusianya terlebih dahulu". Hal ini begitu selaras pula dengan teori yang dikemukakan oleh Meier & Stighlitz (2011)bahwasanya teori pembangunan berevolusi dari pandangan modal sebagai sumber daya utama menjadi manusia sebagai titik sentral pembangunan. membangun manusia tentunya tidak lepas dari pembangunan dalam dunia pendidikan itu sendiri, karena sejatinya manusia di bentuk dan di tempat dalam dunia pendidikan, mulai dari pendidikan primer (orang tua) sampai dengan pendidikan Formal/non Formal (lembaga Pendidikan).

     Pra dan Pasca kemerdekaan, api semangat membangun bangsa ini begitu nampak kuat di dalam semangat masyarakat. berbagai elemen dari sabang sampai dengan merauke, dari pulau miangas sampai dengan rote mereka saling bahu membahu dalam menytumbangkan sejumlah iuran untuk bangsa ini. Ada yang iuran Pikiran, Tenaga, modal, bahkan sampai dengan merelakan tetes darahnya untuk bangsa ini. Alasan mereka bukan untuk bagaimana nantinya anak cucunya dapat menikmati hasil dari iuran tersebut, akan tetapi yang demikian adalah sebuah perjuangan dan pengorbanan yang mereka ikhlaskan untuk bangsa ini, tanpa mengharap imbalan nantinya.
 Namun nampaknya semakin hari masyarakat semakin amnesia terhadap amanat, cita-cita dan janji bersama yang tertuang dalam naskan mulia UUD 1945. Salah besar ketika kebanyakan dari masyarakat kita mengartikan bahswasanya usaha kemerdekaan hanya sebatas menggulung kolonialisme yang merugikan masyarakat, akan tetapi usaha kemerdekaan tersebut untuk menggelar keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya. Inilah yang harus kita perjuangkan guna melunasi janiji-janji kemerdekaan yang telah kian lama terasingkan oleh kepentingan-kepentingan golongan, pribadi dan kepentingan yang mengabaikan nilai-nilai luhur yang telah di sepakati bersama.

         "Lebih baik menyalakan lilin, dari pada harus mengutuk kegelapan". (Anies Baswedan)

          Begitulah ungkapannya ketika melihat fenomena-fenomena masalah yang terjadi pada sistem pendidikan kita saat ini. kita diajak bagaimana berfikir menuju generasi yang kritis optimis, yaitu generasi yang tidak hanya memberikan kritik-kritik saja, akan tetapi mampu memberikan solusi-solusi nyata bagi setiap permasalahan yang ada dalam ranah pendidikan. dari hasil studi lapangan bahwasanya masigh banyak sekali problem yang harus kita benahi dalam sektor pendidikan mulai dari sistem dan aturan sampai dengan kapabilitas seorang guru dalam mendidik, dari segi manusia anies memandangf bahwasanya ada tiga hal yang menjadi pokok permasalahan Human Resource dalam Pendidikan.

1. Kapabilitas Seorang Pendidik
       Masih banyak pendidik yang ada dalam bangsa ini yang kurang mengerti akan jati diri yang sebenarnya sebagai seoarang pendidik. kebanyakan mereka masih terpaku dengan paradigma bahwasanya pendidikan hanya dinilai sebagai profesi semata, tidak banyak dari mereka yang berfikiran bahwasanya menjadi seorang pendidik adalah sebuah tanggung jawab moral yang tinggi, yang nantinya akan di pertanggungjawabkan kepada Tuhan, bangsa, dan Negara, tentunya demi sebuah pencerahan yang nantinya di berikan kepada anak-anak Negeri.

2. Distribusi Pendidik
     Ada anggapan bahwasanya pembangunan yang ada di bangsa ini masih berpusat di jawa. Ya itu benar. Betapa kita lihat dan bandingkan (Sektor Pendidikan) antara sekolah-sekolah yang ada di luar pulau jawa-dengan yang ada di pulau jawa, maka dapat kita rasakan bahwasanya masih lah banyak ketimpangan dan kesenjangan yang ada di dalamnya, betapa tidak, bahwasanya pendidik-pendidik yang masuk dalam kualitas menengah keatas, semuanya masih berpusat untuk mendidik di Pulau jawa saja, sedangkan untuk pulau luar jawa sungguh masih banyak kekurangan stock pendidik yang berkualitas. maka berkaca dengan itu perlu adantya suatu distribusi pemerataan untuk kalangan pendidik menengah keatas agar dapat mengurangi kesenjangan dan ketimpangan yang ada.

3. Kesejahteraan Pendidik
     Dahulu Ketika nagasaki dan Hirosima (jepang) terkena imbas dari adanya perang dunia ke 2, dimana pada saat itu kedua kota di jepang tersebut luluh lantah karena bom bardir nuklir dari sekutu, maka pasca pemboman tersebut. Oleh kaisar yang  saat itu masih menjabat, hal yang pertama kali ditanya dia adalah "Berapa jumlah Guru yang masih tersisa disini" lantas kemudia sang kaisar mengerahkan energi besar-besaran untuk melakukan restorasi salah satunya adalah membangun kembali pendidikan pasca perang dunia 2, salah satunya adalah dengan menghargai guru sebagai sebagai profesi dan gerakan moral untuk bangkit. hal itu pula tidak di simbolkan dengan retorika-retorikan semata, akan tetapi dengan sebuah bentuk penghargaan yang nyata kepada guru yang masih tersisa yaitu dengan membayar mahal untuk profesi tersebut. coba kita bandingkan dengan apa yang ada diindonesia, dimana formalitaslah yang dibayart mahal tanpa memperhatikan kesungguhan seorang pendidik dalam mengabdikan dirinya untuk ikut serta dalam melunasi janji-janji kemerdekaan. Betapa resah hati ini ketika melihat masih banyak guru honorer yang hanya di bayar 150rb saja dalam sebulan. sungguh amat timpang.

    Jika ketiga hal diatas dapat teratasi, maka sesungguhnya tidak ada yang tidak mungkin untuk mengangkat kualitas pendidikan di Indonesia menjadi kualitas yang sejajar dengan pendidikan nomor 1 dunia (venezuela). yang terpenting dan dapat kita lakukan disini adalah sesuai dengan apa yang Anies baswedan sampaikan, bahwasanya lebih baik menyalakan lilin dari pada mengutuk kegelapan, meningkatkan kapabilias diri menjadi generasi yang kritis optimis, bukan generasi kritis pesimis, generasi yang hanya bisa mengkritik tanpa ada solusi-solusi yang ditawarkan. Mari Turun Tangan, untuk pendidikan yang lebih baik. Bersama "Indonesia Mengajar".

The future of the nation, is in our hands


Masa lalu, masa kini dan masa depan adalah serangkaian waktu yang saling bersinergis dalam membentuk sebuah peradaban. Semua itu berputar seperti hal nya perjalanan hidup manusia, dari mulai bayi, anak-anak, remaja sampai dengan orang tua yang nantinya mau tidak  mau harus terkubur dalam himpitan tanah yang begitu gelap. Masa lalu adalah masa yang hanya dapat dikenang dan dijadikan sebuah pelajaran berharaga oleh setiap insan yang sudah terlepas dari ego masa kini. Seperti yang bung karno katakan pada masanya.

“Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca benggala dari masa yang akan datang” (dalam pidatonya di HUT Proklamasi 1966). Dan masa kini adalah masa yang harus dijalani, masa dimana semua impian kedepan digagas didalamnya. Sedangkan masa depan adalah suatu prediksi ketidak pastian atas rumusan yang telah dibuat pada masa sekarang dengan bercermin pada cerita masa lalu (Masa lalu). Masa depan adalah suatu hal yang harus benar-benar kita konsep menjadi sebuah hal yang nantinya akan mampu membawa kita menjadi bagian dari sejarah umat. Bagian dari perdaban-peradaban cemerlang hasil buah karya manusia, bukan hanya menjadi bangsa yang hidup di pinggiran sejarah.

Indonesia  adalah salah satu bangsa yang berpotensi menjadi salah satu negara yang terombang-ambingkan dalam lautan sejarah jikalau semangat pemuda revolusioner tidak ada lagi di negeri ini. Semangat minoritas yang tidak bisa mengalahkan kaum hedonisme mayoritas.

“Perjuanganku lebih mudah karena hanya melawan penjajah, tapi perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri ” (Pidato bung karno saat HUT Proklamasi 1963)

Pada era penjajahan , tantangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia hanyalah satu semata. Yaitu bagaimana ia bisa melepaskan diri dari belenggu penyiksaan, belenggu perenggut kebebasan asasi manusia, yaitu penjajahan. Bangga Indonesia hanya dihadapkan pada  masalah bagaimana cara untuk menjadi sebuah bangsa yang merdeka. Menjadi sebuah Negara yang merdeka yang tentunya adalah dengan cara mengusir para penjajah dengan jalan perang. Namun lain halnya dengan perjuangan pada era saat ini, khususnya pasca reformasi dimana banyak sekali problematika yang melanda bangsa ini, mulai dari sistem yang ada didalamnya sampai dengan tekanan-tekanan yang datang dari luar. Semua itu bercampur, dan menjadi suatu hal yang komperehensif yang menjadikan bangsa Indonesia menjadi dipandang sebelah mata oleh bangsa-bangsa yang lainnya. Ini jelas tantangan yang lebih sulit dibandingkan dengan mengusir para penjajah. Seandainya tumbuhan, tambang-tambang emas, tambang batu bara, kandungan minyak bumi Indonesia, mereka semuanya dapat berbica, maka setidaknya satu hal yang mereka katakan adalah “Kami ingin para pendiri bangsa ini dibangkitkan untuk memimpin kami kembali”. Penataan masa depan harus benar-benar ditanamkan dalam setiap benak individu masyarakat Indonesia, Penataan yang mengarah pada seluruh sendi kehidupan, bukan penataan yang mencoba mengarahkan semuanya menjadi satu hal yang monoton. Mulai dari sumber daya manusia, Alam, hingga sumber daya buatan manusia. Itulah yang yang harusnya bisa difikirkan oleh mereka yang duduk diatas sana, harus memikirkan pula untuk mengubah mindset dari politikus menjadi seorang nagarawan sejati.

Pemuda dan Peradaban




“Setiap hari saya menghadapi  masalah yang berat, namun setiap kali yang ku panggil adalah Pemuda” (Umar Bin Al Khotob)

Begitulah kata “Umar Bin Al Khotob” pada masanya ketika memimpin sebuah peradaban gemilang dalam dunia ke Islaman. Dalam hal ini pemuda dikatakan sebagai pilar dari adanya kebangkitan peradaban besar umat manusia. Peradaban yang mampu menggoreskan tinta kejayaan dalam lembaran sejarah manusia. Peradaban yang mampu menjunjung tinggi martabat manusia beserta kodrat alamiahnya. Bukan hanya sekedar peradaban yang menjurus pada degredasi moralitas sebuah bangsa. Maka disinilah letak peran strategis seorang pemuda dalam membawa risalah-risalah perubahan progresifitas.

Beban perubahan senantiasa diamanahkan  oleh para pemuda dalam pergerakannnya, untuk terciptanya sebuah peradaban yang gemilang. Dari hal ini dapat dikatakan bahwasanya perubahan itu akan tercipta manakala ada sebuah integritas yang kuat antara pemuda dan risalah yang diamahkannya. Sejauh mana pergerakan tersebut dapat direalisasikan dengan baik dalam berbagai segi kehidupan, maka sejauh itu pula perubahan yang akan di dapatinya (tanpa terdistorsi oleh degredasi moral).

Sekiranya kita membahas sebuah peradaban maka hal itu tak akan pernah lepas dari sebuah perubahan-perubahan,. Ketika kita mengkaji sebuah perubahan maka hal itu tidak lepas dari progresifitas pergerakan, ketika kita membicarakan progresifitas pegerakan maka hal itu tak akan pernah lepas dari peran serta pemuda selaku tonggak tegak berdirinya sebuah peradaban, dan ketika kita menepis arti kata pemuda maka mahasiswa lah penyumbang utama adanya pemuda-pemuda tangguh, pemuda yang terlepas dari sebuah ruang privat yang hanya akan menjurus terhadap fested interest semata. Oleh karena itulah dalam hal ini mahasiswa memiliki peran yang strategis dalam setiap sektor pembangunan publik dalam sebuah tata kelola Negara.

Nampaknya, perlu ada sebuah klarifikasi mengenai peran strategis pemuda yang membawa risalah-risalah perubahan. Lalu Mahasiswa yang seperti apa ?? Itu adalah pertanyaan yang mendasar bagi setiap orang dalam menanggapi wacana “mahasiswa sebagai pembawa risalah perubahan ( Agent Of Change)”. Sejatinya mahasiswa bukanlah makhluk suci yang diturunkan dari langit guna membantu mengentasakan setiap permasalahan yang ada di dunia. mahasiswa sama seperti halnya manusia biasa yang diciptakan dari tanah pada awal penciptaannya. Mahasiswa adalah bagian dari masyarakat, dimana ia adalah simbol dari hati nurani rakyat yang turut merasakan pedihnya tirani yang ada dalam suatu negara.

       Banyak kategori-kategori yang melekat dalam sebutan dunia Mahasiswa. Ada yang disebut Mahasiswa kupu-kupu ( kuliah pulang, kuliah pulang), ada mahasiswa kura-kura ( kuliah rapat, kuliah rapat), kuci-kuci (kuliah nyuci, kuliah nyuci), Kuning-kuning (kuliah maning, kuliah maning, ,saking betahnya tuh dikampus, sampai-sampai 14 semester di borong abis).  Ya itulah sebutan yang kerap kali terlintas dalam telinga kita. Lalu mana yang paling ideal? Tegas dikatakan bahwasanya pemuda revolusioner adalah pemuda yang kreatif dan inovatif, visioner dan memiliki keunggulan hati. bukan pemuda yang mati akal dan fikirannya (red ; tidak dikelola dengan baik), bukan pula pemuda yang menggunakan fikirannya tanpa di imbangi nuraninya dalam setiap tindakannya, ataupun pemuda yang fikirannya banyak disusupi oleh hal-hal yang fragmatis (red ; cukel, dangkal, kotor, banyak sarang laba-laba diotaknya). karena Kita tak dapat memandang suatu perubahan dari satu prespektif saja, maka banyak perubahan-perubahan yang mungkin saja itu ideal bagi setiap mahasiswa dalam muaranya kepada peradaban sejati. Biarkan pluralisme menjadi warna dalam setiap langkah pergerakan mahasiswa. karena tanpa warna, pergerakan hanya akan menjadi gelap dan monoton di setiap kurun waktunya. Namu  Jangan biarkan pula “mahasaiswa sebagai agent of change” hanya sekedar menjadi mitos yang beredar dikalangan masyarakat, membutakan mengenai realitas dan harapan masyarakat. Mari bergerak bersama dalam menyongsong perubahan-perubahan menuju muara peradaban sejati. Hidup mahasiswa . . . !


Menagih Janji Kemerdekaan

". . . .Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial"
     Begitulah kiranya pekikan tersirat dari naskah UUD 1945. Sebuah pekikan tersirat nan mengandung begitu banyak amanah dan cita-cita luhur dari para pendiri bangsa ini. Salah satu cita-cita luhur yang tercantum didalamnya adalah "Mencerdaskan Kehidupan Bangsa". Para pendiri bangsa ini sadar bahwasanya pilar dari sebuah peradaban bangsa berakar dari sebuah pendidikan. Negara yang jauh dan mengesampingkan nilai-nilai pendidikan maka dapat dipastikan bahwasanya negara tersebut akan jauh pula dari harumnya semerbak peradaban.

      Dalam ungkapannya Anies Baswedan mengungkapkan suatu pernyataan menarik,"Jika ingin membangun Bangsa, maka bangunlah manusianya terlebih dahulu". Hal ini begitu selaras pula dengan teori yang dikemukakan oleh Meier & Stighlitz (2011)bahwasanya teori pembangunan berevolusi dari pandangan modal sebagai sumber daya utama menjadi manusia sebagai titik sentral pembangunan. membangun manusia tentunya tidak lepas dari pembangunan dalam dunia pendidikan itu sendiri, karena sejatinya manusia di bentuk dan di tempat dalam dunia pendidikan, mulai dari pendidikan primer (orang tua) sampai dengan pendidikan Formal/non Formal (lembaga Pendidikan).

     Pra dan Pasca kemerdekaan, api semangat membangun bangsa ini begitu nampak kuat di dalam semangat masyarakat. berbagai elemen dari sabang sampai dengan merauke, dari pulau miangas sampai dengan rote mereka saling bahu membahu dalam menytumbangkan sejumlah iuran untuk bangsa ini. Ada yang iuran Pikiran, Tenaga, modal, bahkan sampai dengan merelakan tetes darahnya untuk bangsa ini. Alasan mereka bukan untuk bagaimana nantinya anak cucunya dapat menikmati hasil dari iuran tersebut, akan tetapi yang demikian adalah sebuah perjuangan dan pengorbanan yang mereka ikhlaskan untuk bangsa ini, tanpa mengharap imbalan nantinya.
 Namun nampaknya semakin hari masyarakat semakin amnesia terhadap amanat, cita-cita dan janji bersama yang tertuang dalam naskan mulia UUD 1945. Salah besar ketika kebanyakan dari masyarakat kita mengartikan bahswasanya usaha kemerdekaan hanya sebatas menggulung kolonialisme yang merugikan masyarakat, akan tetapi usaha kemerdekaan tersebut untuk menggelar keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya. Inilah yang harus kita perjuangkan guna melunasi janiji-janji kemerdekaan yang telah kian lama terasingkan oleh kepentingan-kepentingan golongan, pribadi dan kepentingan yang mengabaikan nilai-nilai luhur yang telah di sepakati bersama.

         "Lebih baik menyalakan lilin, dari pada harus mengutuk kegelapan". (Anies Baswedan)

          Begitulah ungkapannya ketika melihat fenomena-fenomena masalah yang terjadi pada sistem pendidikan kita saat ini. kita diajak bagaimana berfikir menuju generasi yang kritis optimis, yaitu generasi yang tidak hanya memberikan kritik-kritik saja, akan tetapi mampu memberikan solusi-solusi nyata bagi setiap permasalahan yang ada dalam ranah pendidikan. dari hasil studi lapangan bahwasanya masigh banyak sekali problem yang harus kita benahi dalam sektor pendidikan mulai dari sistem dan aturan sampai dengan kapabilitas seorang guru dalam mendidik, dari segi manusia anies memandangf bahwasanya ada tiga hal yang menjadi pokok permasalahan Human Resource dalam Pendidikan.

1. Kapabilitas Seorang Pendidik
       Masih banyak pendidik yang ada dalam bangsa ini yang kurang mengerti akan jati diri yang sebenarnya sebagai seoarang pendidik. kebanyakan mereka masih terpaku dengan paradigma bahwasanya pendidikan hanya dinilai sebagai profesi semata, tidak banyak dari mereka yang berfikiran bahwasanya menjadi seorang pendidik adalah sebuah tanggung jawab moral yang tinggi, yang nantinya akan di pertanggungjawabkan kepada Tuhan, bangsa, dan Negara, tentunya demi sebuah pencerahan yang nantinya di berikan kepada anak-anak Negeri.

2. Distribusi Pendidik
     Ada anggapan bahwasanya pembangunan yang ada di bangsa ini masih berpusat di jawa. Ya itu benar. Betapa kita lihat dan bandingkan (Sektor Pendidikan) antara sekolah-sekolah yang ada di luar pulau jawa-dengan yang ada di pulau jawa, maka dapat kita rasakan bahwasanya masih lah banyak ketimpangan dan kesenjangan yang ada di dalamnya, betapa tidak, bahwasanya pendidik-pendidik yang masuk dalam kualitas menengah keatas, semuanya masih berpusat untuk mendidik di Pulau jawa saja, sedangkan untuk pulau luar jawa sungguh masih banyak kekurangan stock pendidik yang berkualitas. maka berkaca dengan itu perlu adantya suatu distribusi pemerataan untuk kalangan pendidik menengah keatas agar dapat mengurangi kesenjangan dan ketimpangan yang ada.

3. Kesejahteraan Pendidik
     Dahulu Ketika nagasaki dan Hirosima (jepang) terkena imbas dari adanya perang dunia ke 2, dimana pada saat itu kedua kota di jepang tersebut luluh lantah karena bom bardir nuklir dari sekutu, maka pasca pemboman tersebut. Oleh kaisar yang  saat itu masih menjabat, hal yang pertama kali ditanya dia adalah "Berapa jumlah Guru yang masih tersisa disini" lantas kemudia sang kaisar mengerahkan energi besar-besaran untuk melakukan restorasi salah satunya adalah membangun kembali pendidikan pasca perang dunia 2, salah satunya adalah dengan menghargai guru sebagai sebagai profesi dan gerakan moral untuk bangkit. hal itu pula tidak di simbolkan dengan retorika-retorikan semata, akan tetapi dengan sebuah bentuk penghargaan yang nyata kepada guru yang masih tersisa yaitu dengan membayar mahal untuk profesi tersebut. coba kita bandingkan dengan apa yang ada diindonesia, dimana formalitaslah yang dibayart mahal tanpa memperhatikan kesungguhan seorang pendidik dalam mengabdikan dirinya untuk ikut serta dalam melunasi janji-janji kemerdekaan. Betapa resah hati ini ketika melihat masih banyak guru honorer yang hanya di bayar 150rb saja dalam sebulan. sungguh amat timpang.

    Jika ketiga hal diatas dapat teratasi, maka sesungguhnya tidak ada yang tidak mungkin untuk mengangkat kualitas pendidikan di Indonesia menjadi kualitas yang sejajar dengan pendidikan nomor 1 dunia (venezuela). yang terpenting dan dapat kita lakukan disini adalah sesuai dengan apa yang Anies baswedan sampaikan, bahwasanya lebih baik menyalakan lilin dari pada mengutuk kegelapan, meningkatkan kapabilias diri menjadi generasi yang kritis optimis, bukan generasi kritis pesimis, generasi yang hanya bisa mengkritik tanpa ada solusi-solusi yang ditawarkan. Mari Turun Tangan, untuk pendidikan yang lebih baik. Bersama "Indonesia Mengajar".